Pejuang Papua Merdeka dan Musuh Yang Melawannya

Oleh: Nipson Murib

pejuang-papua-merdeka-dan-musuh-yang-melawannya-copy

Gambar Ilustrasi Revolusi Mental Papua “Pejuang Papua Merdeka dan Musuh Yang Melawannya”

Sebelum membahas lebih dalam dari topik di atas ada beberapa pertanyaan yaitu:

1. Siapakah Pejuang Papua Merdeka atau OPM?

Yang jelas bahwa pejuang Papua merdeka atau OPM  adalah orang Papua yang memperjuangkan Hak- hak dasar orang Papua untuk membebaskan rayakyatnya  dari penindasan,diskrminasi, pengusuran yang dilakukan oleh kolonial, Militer, dan Imperealis. Pejuang papua merdeka disini yang maksudkan adalah pejuang- pejuang yang telah mendahului tinggalkan Tanah dan rakyat Papua dan pejuang anak-anak Papua saat ini sedang memperjuangkan baik, di hutan Papua, di daerah perkotaan Papua, Nasional dan Internasional.

Terkadang salah memahami tentang yang namanya OPM ( Organisasi Papua Merdeka). Seperti yang sering kita dengar bahwa OPM hanya tinggal di Hutan, OPM pengacau, OPM makar, dan sering juga dikatakan melalui dialek papua “Ko kaya OPM saja” atau biasanya “Ko pu gaya ini kaya OPM” mungkin karena, dilihat dari rambut panjang, Berjengkot atau berkumis. Perlu memahami Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah organisa-organisasi yang terstruktur yang berjuang untuk menentukan nasib sendiri self determination diatas Tanahnya sendiri. OPM atau organisasi Papua Merdeka bukan tinggal di hutan Papua saja tetapi, OPM (Organisasi Papua Merdeka) ada dimana-mana yang ter organisir dalam gerakan-gerakan yang menamakan organisasi yang memperjuangkan nasib rakyat Papua dengan tujuan menentukan Nasib Sendiri tanpa kolonial kapitalis, Imperealis, dan Militer penjajah.

Dengan itu menarik kesimpulan bahwa Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah organisasi yang ter organisir berjuang  demi Rakyatnya, Tanahnya, melalui gerakan-gerakan yang ada di daerah papua baik di Hutan atau kota, Nasional dan Internasional untuk menentukan Nasib Sendiri dari kolonial,Militer, Kapitalis, Imperealis berdasarkan HAM.

 2. Siapakah Musuh atau Lawan Pejuang Papua Merdeka?

Maksud dari pertanyaan kedua adalah Perjuangan kemerdekaan Papua Barat melawan siapa? Ada yang mengatakan mengusir dan melawan orang non Papua atau orang Indonesia yang ada di tanah Papua berasal dari Sabang sampai Amboina karena, mereka adalah musuh. Ada yang mengatakan musuh kita adalah TNI, POLRI dan Pemerintahaan di Papua, ada yang mengatakan kita bukan memusuhi dan melawan orang Indonesianya tetapi Melawan Sistemnya, ada juga mengatakan musuh kami adalah kolonial, kapitalis dengan sistemnya, Militerism, imperialisms yang menanam sahamnya diatas tanah Papua.

Untuk mengetahui siapa sebenarnya musuh dan lawan pejuang Papua merdeka atau orang Papua pada umumnya, perlu kembali pada sejarah perang dunia ke II yang berawal di kepulauan pasifik. Setelah Amerika memukul mudur Tentara Jepang dari kepulauan Pasifik dan Papua, pulau Papua dan orang Papua diserakan kepada Belanda untuk melanjutkan pemerintahaanya. Secara manusiawi berdasarkan hasil kemenangan dari perang tersebut otomatis kekuasaan di Asia dan pasifik dipegang atau dikuasai oleh Sekutu Amerika apa lagi, Tanah Papua dan Kekayaannya adalah milik Amerika bukan milik orang Papua.

Ali Murtopo perna mengatakan kepada para anggota DMP Bahwa Jakarta sama sekali tidak tertarik dengan orang Papua tetapi Jakarta hanya tertarik dengan Wilayah Irian Barat. Jika inginkan Kemerdekaan, maka sebaiknya minta kepada Allah agar diberikan tempat di salah sebuah Pulau di Samudera Pasifik, atau menyurati orang-orang Amerika untuk mencarikan tempat di bulan. kita bisa lihat dan analisis juga perebutan Tanah Papua anatara Indonesia dengan Belanda untuk menjadi orang kedua dari Amerika atas Tanah Papua, dengan tujuan untuk menjaga kekayaan Alam Papua untuk mendapat bagian lebih setelah Amerika. perebutan antara Belanda dengan Indonesia terjadi setelah Deklarasi Negara West Papua 1 desember 1961, Dengan adanya publikasi media internasional tentang kemerdekaan Papua sehingga Soekarno menjadi brutal untuk menggagalkan agenda penerapan Piagam PBB Pasal 73 untuk Bangsa Papua.

Dengan bantuan persenjataan Rusia, Soekarno mulai mengumandangkan TRIKORA (Tri Komando Rakyat) di Alun-alun kota Yogyakarta yang berbunyi sebagai berikut:

1. Gagalkan Bendera Boneka Papua Barat buatan Kolonial Belanda.
2. Kibarkan Sang Saka Merah Putih di IRIAN Barat tanah air Indonesia.
3. Bersiap-siaplah untuk mobilisasi Nasional guna mempertahankan

Kemerdekaan Indonesia Ambisi Soekarno untuk perluasan wilayah Indonesia hingga ke Papua, Timor Leste, dan Malaysia sehingga ia mulai menciptakan Partai Komunis Indonesia (PKI) mengikuti jejak China yang mendirikan Partai Komunis China (PKC) serta mulai mengadakan kerja sama dengan Negara-negara Komunis seperti Rusia (Pimpinan Nikita Kurcev), China (Pimpinan Mao Zedong)  dan Cuba (Pimpinan Che Guevara). Akhirnya menimbulkan ketakutan di kalangan militer Amerika sehingga President Amerika John. F. Kennedy ditekan melalui surat gabungan dari Departemen Luar Negeri Amerika, Angkatan Darat AS, Angkatan Laut AS, NSA, Angkatan Udara  AS, Inteligent CIA, dan Staff Gabungan pada tanggal 20 Maret 1962. (Lihat lampiran New Guinea Setlement).

Dengan jelas bahwa dengan tekanan itu Amerika mempermain idenya untuk menipu orang Papua melalui Perjanjian New York dan PEPERA agar orang Papua bepikir Papua masuk Indonesia adalah orang Papua Kala melalui Penentuan Pendapat Rakyat dan Belanda pun tidak bertindak keras atas Negara West Papua yang baru saja di Deklarasi, Belanda tidak bertanggung Jawab karena, Tanah Papua bukan Milik Belanda melainkan Amerika maka, mengadakan Perjanjian Rahasia di Roma oleh Amerika, Belanda, dan Indonesia.

Musuh yang dihadapi dan sedang lawan anak-anak Papua bukan itu saja tetapi, termasuk PBB yang tidak jujur dalam Penentuan Pendapat Rakyat tidak berdasarkan perjanjian New York dan Resolusi yang manipulasi. PBB yang berdasarkan fungsi tugasnya yang tidak jujur atau tidak sesuai maka tututan orang Papua harus bertanggung jawab atas Hak-Hak orang papua yang memperikan kesempatan kepada mereka yang sedang garong, perebutan/pengusuran, penindasan, pemerkosaan, pembunuhan, penindasan  oleh kolonial Kapitalis, Imprealis dan Militer.

Dilihat dari singkat sejarah  diatas maka, di simbulkan bahwa Musuh Pejuang Papua Merdeka adalah Mereka yang Sedang Menjajah dengan Sistemnya,  Kapitalis, Militerisme, Imperealisme atau sebut saja Pejuang Papua Merdeka Melawan Sistem kolonial Indonesia sebagai penjaga kekayaan Tanah Papua untuk kepentingan Bersama Amerika dan 24 Negara Lainnya. Dan pejuang Papua Merdeka melawa Negara Imperealis Amerika dengan saham-sahamnya dan juga Negara-negara yang menanamkan sahamnya diatas tanah Papua dan menuntut kepada PBB yang tidak Jujur dalam Tugas dan tanggung jawabnya.

Lawan dan musuh pejuang Papua Merdeka adalah sudah jelas dan sudah sebutkan diatas maka, anak-anak penerus perjuangan yang sedang berjuang sampai saat ini bukan melawan dan memusuhi kawan-kawan Indonesia dari Sabang sampai Amboina, karena mereka adalah sama-sama rakyat tertindas oleh Musuh yang Sama yaitu Sistem Negara Indonesia yang namanya kaki tangan Kapitalis Imperealis Militer.

Sumber:

1. Paul Salim. West New Guinea Setlement in 1962. Antena Nederland.
            http://www.antenna.nl/wvi/eng/ic/pki/sal/sal3.html
           (foto Soekarno bersama beberapa Toko  Komunis: Lihat lampiran New Guinea Setlement) 4

  1. John Anari. Analisis Penyebab Konflik Papua Dan Solusinya Secara Hukum Internasional.                 Wplo 2011

Penulis adalah Katua Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali

Presiden Jokowi Marah Besar,..Umat Islam Aceh Anarkis! Larang Kaum Kristen Beribadah

151019_id_aceh_gereja_620

JAKARTA, (KW) – Tak ada habis-habisnya persoalan pelarangan ibadah bagi umat Kristiani di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), tepatnya di Desa Siompin, Kecamatan Suro, Kabupaten Aceh Singkil.

Hari ini kita kembali dikejutkan dengan terjadinya aksi pelarangan beribadah oleh pemerintah setempat di Aceh Singkil terhadap umat Kristiani, walaupun konflik tidak sebesar ditahun-tahun sebelumnya (1979, 1995, 1998, 2001, 2006 dan 2015).
Konflik terbesar terakhir terjadi ditahun 2015, tepatnya pada bulan Oktober, saya menjadi salah satu utusan tim pencari fakta dari PP GMKI untuk mengunjungi daerah konflik di Aceh Singkil, saat itu terjadi pembakaran Gereja yang mengakibatkan 1 orang umat Kristen meninggal dunia, kemudian konflik ini memunculkan ketakutan dikalangan masyarakat yang mengakibatkan sebagian besar harus mengungsi kedaerah lain seperti ke Kabupaten Pakpak Bharat dan ke Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara demi menghindari pertikaian lebih lanjut antar masyarakat. Di tahun ini juga terjadi penutupan dan pembongkaran 10 unit Gereja, hal ini menyebabkan banyak masyarakat kehilangan hak untuk dapat melaksanakan ibadah di Gereja, adapun 13 Gereja yang disisakan sangat jauh dari jangkauan sebagian penduduk yang lain.
Yang boleh saya tangkap pada saat itu, alasan paling kuat bagi umat muslim dan pemerintah setempat untuk melarang umat Kristen mendirikan Gereja yaitu mengacu pada perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian 11 Juli 1979 melalui ikrar bersama oleh 8 ulama perwakilan umat Islam dan 8 pengurus Gereja perwakilan umat Kristen yang memuat salah satunya kesepakatan yang paling penting adalah tentang bangunan Gereja yang hanya boleh dibangun sebanyak 5 unit, 1 Gereja (bangunan utama) dan 4 undung-undung (bangunan kecil yang fungsinya sama seperti langgar atau mushollah bagi umat muslim). Sementara dari umat Kristen, sepertinya bangunan Gereja sudah menjadi kebutuhan penting dan mendesak untuk saat ini, karena jumlah penduduk beragama Kristen di Aceh Singkil yang semakin banyak yang berasal dari keturunan mereka yang sedari awal berdiam di Aceh Singkil dan memeluk agama Kristen.
Pelarangan Beribadah Kembali Terjadi
Menurut informasi dari VOAIndonesia.com, pada tanggal 2 Maret 2017 di Desa Siompin, Kecamatan Suro, Kabupaten Aceh Singkil kembali terjadi aksi pelarangan beribadah bagi umat Kristen oleh pemerintah setempat, kali ini bukan bangunan Gereja yang harus dibongkar, melainkan tenda yang digunakan sebagai tempat beribadah oleh penduduk desa dengan alasan tidak memiliki ijin.
Sungguh menjadi ironi, apakah di Aceh pemasangan tenda biru juga harus memiliki ijin?
Sebenarnya umat Kristen di desa tersebut hanya mengambil tempat diatas tanah setapak untuk mereka melakukan kewajiban beribadah bersama, bukan mendirikan bangunan besar dan megah, tetapi ternyata itupun dilarang.
Hal ini membuktikan bahwa pelarangan yang sebenarnya yang selama ini terjadi bukan karena ijin bangunan, akan tetapi pelarangan ini semakin jelas untuk melaksanakan ibadah. Inilah kenyataan yang terjadi di Aceh Singkil yang merupakan bagian dari republik yang menganut ideologi Pancasila dengan slogan Bhinneka Tunggal Ika.
Perlu dicatat, bahwa umat Kristen di Aceh Singkin adalah penduduk asli yang lahir dan besar disana dan bukan orang pendatang, adanya isu Kristenisasi di Aceh sangat santer disana, kami sendiri dari organisasi GMKI yang saat itu membuka Cabang di Kutacane pernah dijadikan sebagai berita bahwa sedang melakukan Kristenisasi, hal ini tidaklah adil bagi mahasiswa Kristen disana yang ingin dan mau belajar tentang ke Kristenan dan ke Indonesiaan.
Pujian Raja Salman Atas Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
Sehari sebelumnya, Indonesia kedatangan seorang Raja dari Saudi Arabia yang terkenal sebagai Raja Penjaga 2 tanah suci umat Islam, yaitu Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud yang secara otomatis mengundang kehebohan berbalut kebanggaan bagi seluruh penduduk Indonesia.
Pujiannya terhadap Indonesia tak berhenti pada Vlognya bersama Presiden Jokowi sewaktu santap siang di Istana, saat itu Raja Salmat mengatakan rakyat Indonesia adalah Rakyat yang mulia, berbeda sekali dengan Imam Besar FPI Habib Rizieq dan para pengikutnya yang sering menyebut saudara sebangsanya umat Kristen dengan sebuatan dan teriakan “Kafir”.
Raja Salman, pada hari ke tiga di Indonesia (3/3/2017) tepat sehari setelah adanya aksi pelarangan ibadah di Aceh Singkil melakukan pertemuan di Istana Kepresiden Bogor dengan berbagai 28 orang tokoh lintas Agama yang ada di Indonesia, pada saat itu beliau menyampaikan pujiannya atas kerukunan umat beragama di Indonesia. Mungkin sebagian besar orang akan senang mendengar itu, tetapi mungkin tidak untuk umat Kristen di Aceh Singkil yang saat ini dilarang/tidak diberi ruang oleh pemerintah setempat beribadah kepada Tuhannya sekalipun itu mereka lakukan bersama di atas tanah dan dibawah tenda. Kenyataan ini berbanding terbalik dengan kebahagiaan kebanyakan orang Indonesia yang mendengar pujian Raja Salman bukan?
Itulah keadaan sebenarnya yang kita alami di Indonesia, belum ada kata “bebas” untuk beribadah, diskriminasi dan sikap intoleransi masih banyak kita temui dimana-mana, pemerintahpun terkesan tidak menghiraukan persoalan ini.
Khusus di Aceh Singkil, biang kerok persoalannya adalah perjanjian 11 Maret 1979 yang mematok jumlah bangunan Gereja hanya 5 unit, tentu ini berbeda dengan semangat UU 1945 dan semangat persatuan dan kerukunan umat beragama, apalagi kalau kita lihat dari segi sisi Hak Azasi Manusia.
Terkadang, umat muslim di Aceh menyebut mereka sudah sangat baik dalam mewujudkan toleransi di daerah ini dengan alasan telah mengijinkan umat Kristen mendirikan tempat ibadah lebih dari jumlah yang ada di perjanjian 11 Maret 1979, bagi saya, itu adalah suatu kekeliruan, seharusnya standart acuan kita dalam menjaga kerukunan di seluruh tanah air haruslah berpatokan pada UUD 1945, bukan pada perjanjian semu yang tidak terakomodir dalam UU dan tidak terdokumentasi dalam arsip negara secara resmi.
Sayapun masih bertanya-tanya dalam hati, apakah ada kelompok yang merasa akan mendapat kesenangan atau lebih gampang mendapatkan tempat disurga dengan cara melarang orang lain beribadah kepada Tuhannya?
Sumber refrensi:

Periksa Apakah Anda MEMILIKI Tanda Huruf “M” di Telapak Tangan, Jika IYA Inilah Arti Psikologinya!!

tanda-m

Ilustrasi foto

KABARWEKO – Ada banyak orang yang mengklaim bahwa garis tangan berbicara banyak tentang kepribadian dan masa depan.

Ini mungkin bukan sesuatu yang baru. Tetapi apa yang Anda mungkin tidak tahu adalah, orang-orang dengan garis telapak tangan membentuk huruf M diklaim sebagai yang luar biasa.

Siapa saja yang memiliki garis tangan berbentuk M diyakini sangat berbakat, memiliki intuisi yang luar biasa. Dan mereka adalah pengusaha atau mitra bisnis yang hebat.

Jika Anda mencintai wanita dengan huruf M di telapak tangannya, jangan khawatir, karena mereka tidak akan berbohong kepada Anda!

Namun Anda tidak usah mencoba untuk berbohong kepada mereka. Karena mereka dapat dengan mudah mengungkapkan kebohongan dan kecurangan Anda.

Wanita dengan huruf M di telapak tangan mereka memiliki intuisi yang jauh lebih kuat dibandingkan pria. Dan bahkan jika kedua pasangan memiliki huruf M, intuisi sang istri masih lebih kuat.

Selain itu, orang dengan tanda ini di telapaknya, dengan mudah dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru dan membuat perubahan yang diperlukan untuk berhasil dalam hidup mereka.

Mereka juga tahu kapan untuk menggunakan peluang yang mereka miliki.

Jika kita melihat dari dekat ke tradisi di banyak negara dan suku kuno, para nabi biasanya memiliki semacam tanda di telapak tangan mereka, terutama huruf M.

Jadi, jika Anda memiliki huruf ini pada telapak tangan, Anda harus tahu bahwa Anda mungkin orang spesial. Dan Anda harus menggunakan bakat dan keberuntungan tersebut untuk meningkatkan kualitas hidup.

Sumber : dream.co.id

Perempuan Papua dalam Pagar : Patriarki & Kapitalis

perempuan-papua-dan-pagar-balobe-kaka-jeri

Foto Jerry

“Menerima ketertindasan bukan untuk diam, tapi untuk dilawan. Karena mengembalikan hak dasar perempuan Papua bukan tentang makan minum tapi soal Identitas!“

Perempuan Papua didefinisikan dengan banyak karakteristik. Ada yang melihat dari segi fisik yang keras, pertahanan hidup bahkan perilaku dan interaksi dengan masyarakat. Perempuan Papua hari ini sudah jauh dari ketertinggalan-ketertinggalan dahulu yang dibuat oleh para penguasa negara yang seakan menyikirkan keberadaan mereka.

Ada dua perpektif yang bisa kita lihat dari persoalan-persoalan perempuan Papua, yang bisa dilihat dari persoalan perempuan secara umum dan khusus.

Perempuan Dalam Genggaman Kekuasaan

Dalam buku Perempuan, Agama dan Masa Depan Demokrasi, yang ditulis oleh Banawiratma dijelaskan bahwa ketidakadilan terhadap kaum perempuan terjadi dalam keluarga dan dalam pembagian kerja dan keuntungan. Begitu pula dalam hidup beragama dan bermasyarakat tidak terdapat persaudaraan yang sederajat. Sederajat atau setara tidak berarti bahwa laki-laki dan perempuan sama saja. Perempuan dan laki-laki memang berbeda namun perbedaan itu sebagai alasan untuk mendiskriminasikan tidak dapat diterima. Banyak sekali perempuan mengalami pelecehan, kekerasan dan diperlakukan sebagai komoditi (barangjualan) (Banawiratma, 2007).

Padahal jika kita tinjau ke belakang, pergerakan perempuan sudah dimulai dari abad ke-17. Berawal dari negara-negara di Eropa yang menyadari bahwa perempuan selalu dirugikan dalam lingkungan kehidupan dalam menjalankan hak-hak sebagai manusia.

Salah satu pakar sejarah, Philip. J. Adler dalam bukunya World Civilization menggambarkan bagaimana kekejaman masyarakat barat dalam memandang dan memperlakukan perempuan.Sampai pada abad ke-17, masyarakat Eropa secara umum pemerintah dan para kaum laki-lakimasih memandang perempuan sebagai jelmaan setan (roh jahat) atau alat bagi setan untuk menggoda manusia dan meyakini bahwa sejak awal penciptaannya, perempuan merupakan ciptaan yang tidak sempurna.

Dari kedua pemikiran di atas menunjukkan sesungguhnya perlawanan dan penolakan terhadap perilaku tidak adil, dilakukan sejak lama namun, pada prakteknya masih ada kompromi-kompromi karena ada keterikatan terhadap budaya. Baik dari budaya lokal, mau pun budaya modern saat ini.

Sedangkan Banawiratma hendak menjelaskan bahwa sampai hari ini masih ada sekat-sekat yang dibuat di kalangan masyarakat majemuk untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan.

Adapun benang merah dari kedua pemikiran ini yang juga adalah budaya patriarki. Patriarki berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani: pater artinya bapak dan arche artinya kekuasaan. Sehingga patriarki merupakan kekuasaan bapak (kaum laki-laki) yang mendominasi, mensubordinasikan dan mendiskriminasikan kaum perempuan. Cara hidup pun menjadiandrosentris yaitu andro yang berasal dari bahasa yunani laki-laki dan sentrum yang artinya pusat, sehingga laki-laki menjadi pusat segala kehidupan dan perempuan dimarginalkan.Patriarki merengut hak-hak dasar perempuan sebagai manusia seutuhnya. Bahkan kasus budaya patriarki juga merajalela di kalangan masyarakat Papua.

Dalam Jurnal Kasniah yang diterbitkantahun 2006, dijelaskan mengenai kondisi kesehatan perempuan-perempuan di Lembah Baliem sangat memprihatiankan.

Kurangnya jaminan ekonomi bagi wanita di lembah baliem akan menjadikan kondisi yang serius selama musim kemarau panjang, penduduk menjadi kelaparan, krisis itu tampak pada dimensi gender.

Bila dihitung dengan mata pencaharian, kegiatan sehari-hari dan konsumsi sangat ditentukan secara kultural berdasarkan status, peranan dan posisi wanita dalam keluarga.

Dalam jurnal tersebut juga mendiskripsikan bagaimana dalam pembagian tugas dalam tatanan kehidupan. Perempuan ditugaskan mengurusi kebun yang telah dibersihkan oleh laki-laki lalu mengurusi anak-anak, juga atas perekonomian keluarga lalu menyajikan makanan dan itu pekerjaan sehari-hari, sedangkan porsi nutrisi yang dikonsumsi olehnya lebih sedikit. Karena perempuan harus mendahulukan lelaki dan anak-anak.

Mungkin kasus ini belum merepresentasi kehidupan perempuan Papua pada umumnya, namun setidaknya sedikit menggambarakan tentang culture yang belum menjadi solusi atas keutuhan hak-hak dasar perempuan Papua.

Di waktu yang bersamaan, masuklah para modal dan kekuasaan negara Indonesia di Papua.Kehadiran mereka bukan membantu keberadaan perempuan Papua, justru memberatkan perjuangan perempuan Papua dalam meperoleh hak-hak dasar sebagai manusia.

Negara Indonesia justru sebagai agen untuk pemegang modal (kapitalis). Hadir dan menghancurkan sistem masyarakat Papua. Buah dari kehancuran sistem ini, signifikan salah satu korbannya adalah penindasan terhadap perempuan Papua.

Adapun sejarah Indonesia yang hadir di Papua dengan pendekatan militer. Ottow dalam MPE mengitup (di bawah bendera revolusi Jilid I hal 427) dalam pidato pada tanggal 17 Agustus 1960,Soekarno mengatakan, “Maka adalah suatu keharusan bahwa kabinet kerdja melaksanakan politik pembebasan Irian Barat (sekarang Papua) setjara revolusioner menurut bahasa sendiri revolusi Nasional Indonesia”.

Lalu Ottow menuliskan bahwa persiapan militer bagi operasi pembebasan Irian Barat mulai dilakukan dengan pengiriman delegasi ke berbagai negara untuk melobi pembelian senjata(Ottow, 1998).

Selama tujuh tahun (1962-1969) Indonesia telah melakukan berbagai tindakan kekejaman kemanusian sebelum, pada saat dan sesudah Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada tahun1969. Terbukti akhirnya dalam proses penentuan nasib sendiri pada tahun 1969, kekuatan militer Indonesia lebih dominan dalam proses penentuan pendapat dan menghalalkan semua cara, mengintimidasi rakyat dan akhirnya militer Indonesia memenangkan Pepera tersebut (Wonda,2009).

Pendekatan militer ini tidak terhenti setelah Pepera dilakukan. Namun, justru hingga hari ini ada banyak sekali pelanggaran Hak Asasi manusia (HAM) yang terjadi akibat pendekatan militer.Perempuan pun menjadi korban kekerasan fisik, mental dan seksual dari pendekatan militer.

Yang terjadi hingga sampai saat ini, perempuan Papua dalam genggaman kekuasaan Negara sebagai agen kapitalis di Papua. Genggaman inilah yang menurut saya, perempuan Papua terkurung dalam pagar-pagar yang terbentuk.

Perempuan Papua Dalam Pagar

Kekuasaan Negara maupun pemegang modal menghancurkan tatanan kehidupan masyarakatPapua, hal ini menyebabkan dampak buruk dialami anak dan perempuan. Kekerasan seksual, fisik dan mental pun tak luput dan terus terjadi hingga sampai saat ini.

Pelanggaran HAM yang dialami oleh perempuan Papua yang berhasil direkam oleh International Coalition For Papua(ICP), Rekomendasi LIPI dan KOMNAS HAM dari periode 2012-1014 (hal 54-56), sudah lebih dari 1700 perempuan diwawancara mengenai pengalaman mereka dalam hal kekerasan, diskriminasi dan marjinalisasi.

Disimpulkan bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah hal yang menjadi tantangan hidup perempuan Papua hari ini. Kemudian menjadi tantangan baru ketika dilaporkan ke polisi (pihak keamanan sipil). Namun, jarang mendapat tanggapan yang baik karena pihak keamanan ini sering terlibat dalam kekerasan tersebut.

Melihat keadaan seperti ini, yang mana jarang mendapat tanggapan dari pihak kepolisian bahkan perhatian khusus. Dimungkinkan kasus KDRT terhadap perempuan Papua terus terjadi namun tidak terdata.

Kasus poligami, penelantaraan, korban HIV/AIDS, diperlakukan seperti budak itu dalam aktivitas rumah tangga, terpinggirkan aspek ekonomi dalam berjualan di pasar dialami oleh beberapa perempuan Papua hari ini di tempat yang berbeda.

Perempuan Papua adalah korban-korban dari tatanan hidup yang dipaksakan hancur. Tidak didengar, disepelehkan, ditinggalkan menjadi label yang diberikan pengusa negara dan pemegang modal kepada mereka. Tujuannya agar kepercayaan diri, moral, daya juang dan kerja keras hancur lebur, karena dianggap hak-hak dasar mereka lebih rendah dibandingkan kepentingan-kepentingan kapitalis dan agennya.

Dalam film dokumenter Papuan Voice I, judulnya Surat Kepada Prada menampilkan oknumTentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai subjek kekerasan seksual. Praktek-praktek kekerasan yang dilakukan aparat,  terbukti ketika perempuan Papua diperkosa dan payu darah dipotongoleh oknum aparat pada kejadian Biak Berdarah tahun 1998 (wawancara dengan Fillep Karma pada pertengahan Agustus 2016).

Dalam International Coalition For Papua (ICP), Rekomendasi LIPI dan KOMNAS HAM dari periode 2012-1014 dijelaskan juga mama Papua ditembak dua kali setelah meminta aparat untuk mengehentikan penembakan dalam sebuah kasus di Papua.

Pada 8 Desember 2014, mama Marci Yogi mengangkat tangannya untuk meminta agar aparat keamanan menghentikan tembakan pada tragedy pembunuhan empat siswa di di Lapangan Karel Gobay, Enarotali, Paniai. Dua peluru menerjangnya.

Peluru pertama mengenai kitab suci yang diletakan di dalam noken dan yang kedua mengenai tangan kiri mama.

Mama Yulita Edowai ditembak di kaki saat sedang berusaha melarikan diri dari lokasi kejadian. Saksi Mama Agusta Degei yang berada di kebun, antara lapangan Karel Gobai dan lapangan Bandar udarah Paniai..

Kasus-kasus seperti ini sangat sering terjadi, namun karena intimidasi dari aparat keamanan membuat perempuan-perempuan Papua memilih diam dan menerima ini sebagai trauma yang tidak untuk diperdebatkan bahkan dilawan.

Berdasaran diskusi kelompok dan wawancara oleh International Coalition For Papua (ICP), Rekomendasi LIPI dan KOMNAS HAM, lebih dari 1700 perempuan di seluruh wilayah Papua (2012-2014) ada tiga bentuk marginalisasi dan diskriminasi yang dialami oleh perempuan Papua, di antaranya:

  1. Peminggiran perempuan papua dari sistem ekonomi

Faktor penyebab, pertama, kurangnya infrastruktur yang menghubungkan perempuan ke pasar , kedua, transportasi yang mahal membatasi akses ke masyarakat dan pasar dan ketiga, dominasi pedagang non-papua di sektor ekonomi.

  1. Pelemahan identitas dan kemiskinan sebagai akibat dari hilangnya sumber daya alam.

Pengambilan atau perampasan sumber daya alam yang dilakukan oleh investor yang bekerjasama dengan pemerintah nasional dan daerah mengakibatkan masyarakat Papua kehilangan tanah dan sumber daya alamnya.

Bahkan aparat keamanan juga berperan penting dalam mendukung pengalihfungsian lahan hutan. Misalnya di Kabupaten Keroom yang juga aparat keamanan yang bekerja untuk melindungi kepentingan investor.

Keberadaan aparat mengancam keberadaan perempuan Papua karena mereka dilarang untuk pergi ke hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka. Mereka dianggap bagian dari Operasi Papua Merdeka (OPM) jika pergi ke hutan.

Sedangkan identitas perempuan Papua seringkali terkait dengan tanah dan alam, jadi masalah ini bukan terkait, makan dan minum serta mata pencarian bahkan aset ekonomi namun tentang perampasan identitas diri perempuan Papua.

  1. Kurangnya partisipasi politik perempuan Papua

Keterlibatan politik perempuan Papua sangat terbatas karena permasalahan ekonomi dan isolasi, bahkan 30 % kuota dasar perempuan hampir tidak pernah tercapai di Papua.

Perempuan jarang sekali dilibatkan dan mengambil keputusan, baik dalam konteks daerah maupun birokrasi. Permasalahan ini tidak dianggap penting bagi partai-partai politik di Papua.

Dari rentetan kasus yang dilampirkan di atas, menunjukan bahwa budaya patriarki, kehancuran tantanan masyarakat Papua yang dipaksakan hancur, melalui kekuasaan kapitalis dan agennya (negara), seakan  menjadi pagar yang sangat kuat untuk mengurung dan mengisolasikan perempuan Papua.

Semakin hari jika pagar ini tidak digoyahkan, maka pagar itu akan terus kuat. Semakain kuat pagar tersebut, maka semakin banyak perempuan Papua yang memiliki hidup sia-sia karena rasa menerima ketertindasan dijadikan budaya.

Semakin berbeda juga cara kita mendefinisikan perempuan Papua dengan kondisi ketertinggalan seperti ini.

Penulis adalah mahasiswa Papua yang sedang kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Pustaka:

Banawiratma, J, B. 2007. Perempuan , Agama dan Masa depan demokrasi. Lembaga study Islam dan politik: Yogyakarta (hlm. 5)

International Coalition Of Papua Team. 2015. Hak asasi manusia di Papua 2015. laporan keempat yang meliput kejadian sepanjang bulan april 2013 hingga desember 2016.

Kasniah, Naniek. 2006. Health risk of women on production, distribution and consumption of food patterns, jayawijaya–Papua, Jurnal Of humaniora Volume 18 Hal 1-6,Yogyakarta.

Ottow, 1998. Indonesia as state is an accident of the ducth colonial history, sebagai negaraIndonesia terbentuk akibat kecelakanaan sejarah penjajahan belanda. Establising a new state based on a old colonialism and resuming neocolonialism.

Papuan, Voices I . 2012. Surat Cinta Kepada Prada. Engage media: Yogyakarta

Philip J. AdlertWorld Civilization, 2000. (hal. 289) 

Wawancara dengan Filep Karma, Saksi Hidup kejadian Byak berdarah pada tanggal 6 Juli1998. Wawancara dilakukan di Asrama Kamasan I Papua pada pertengahan Agustus 2016

Wonda, S. 2007. Jeritan bangsa rakyat Papua Barat mencari keaadilan, Galang press: Yogyakarta

[Sumber: http://zuzangriapon.blogspot.co.id]

Oktovianus Pogau, Dari Nabire sampai Washington DC

10842128_10205805044239180_2874594503402137679_o1-400x400

Alm: Oktovianus Pogau, Pendiri Suara Papua , Jurnalis yang cerdas dan kritis. Dia meninggal pada 31 Januari 2016. (Dok Suara Papua)

Oleh : Ruth Ogetay

KABARWEKO – Pertama kali saya ketemu Oktovianus Pogau, Juli 2009 di sebuah  pertemuan kecil para aktivis Papua di daerah Kalibobo, Nabire. Saya  sedang  liburan kuliah  dari Yogyakarta dan diajak seorang  sepupu buat dengar sebuah diskusi. Okto remaja 17 tahun, kesannya  cerdas. Dia  pakai baju  biru dan celana jeans.

Dia pegang sebuah buku. Waktu rapat, sesekali bicara dan lebih banyak tunduk baca buku. Kalau tidak salah, dia baca buku Stephen Oppenheimer berjudul  Eden in the East.

Setelah diskusi  selesai  kami  pulang  tempat  tinggal masing–masing. Saya melanjutkan kuliah di Yogyakarta sampai lulus pada 2011.  Kami ternyata sama-sama merantau ke Jakarta. Okto kuliah di Universitas Kristen  Indonesia. Saya ikut bantu pekerjaan di Yayasan Pantau, mengurus tahanan politik Papua, sejak 2012. Okto sosok baik hati dan mudah bergaul dengan dengan siapa saja.

Kedua kalinya, saya bertemu Pogau di rumah Andreas Harsono, salah seorang pengurus Yayasan Pantau di Jakarta –rumahnya tempat orang-orang diskusi berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia, dari politik sampai hak asasi manusia. Saya orang baru jadi saya memilih diam untuk mendengarkan. Rupanya seru dan menarik.

Saya makin sering bertemu Okto sesudah kami sering bertemu mahasiswa Papua di Monumen Nasional setiap Sabtu malam – main basket, baku cerita, makan, diskusi soal berbagai persoalan di Tanah Papua. Kami tentu sama menonton sepakbola bila Persipura main di Jakarta.

Okto  seorang  wartawan muda yang pemberani, kritis dan mau bersuara membela rakyat Papua.  Saya perhatikan dia selalu yang paling muda dari semua aktivis bila ada pertemuan. Entah pertemuan dengan  sesama  Papua atau di rumah Kak  Andreas.

Dia menulis  dan menyunting “Suara  Papua, yang didirikan pada Desember 2011. Seingat saya, Okto menempati sebuah rumah kos di daerah Cawang, dekat kampus UKI. Beberapa liputan Okto memukau saya. Dengan kata-kata, Okto membuka kedok kurang baik yang disembunyikan oleh militer dan polisi Indonesia. Dia meliput Konggres Papua III di Abepura  yang  dibubarkan dengan rentetan peluru. Saya bayangkan orang lari kiri dan kanan. Namun keberanian ada pada diri seorang Okto Pogau, wartawan muda ini maju merekam dan mendokumentasikan apa yang terjadi di lapangan tanpa memikirkan keselamatan dirinya terhadap timah panas yang sedang berhamburan.

Kami sering kerja sama  ketika Filep Karma, tahanan politik Papua, dirawat di rumah sakit Cikini pada Juli 2012. Saya bantu Bapa Karma di rumah sakit –mulai dari urusan laboratorium  darah  sampai  cari makan buat rombongannya. Pogau, tentu saja, banyak diskusi maupun membantu keperluan kecil Bapa Karma. Pendek kata, antara 2012 sampai 2014, kami sering bertemu. Okto lantas pindah ke Manokwari dan saya pindah ke Jayapura.

Oktovianus Pogau adalah  sahabat saya.  Dia orang kritis. Dia  juga pemberani. Saya perhatikan kesehatan Okto mulai menurun pada Maret 2015. Saya dengar dari Andreas Harsono  yang  mengunjungi  Okto di Jayapura. Okto memang punya berbagai penyakit sejak masih kecil.

Kami bertemu lagi pada Mei 2015 ketika Presiden Joko Widodo membebaskan lima narapidana politik dari penjara Abepura. Kamu bicara di sebuah rumah milik gereja di Abepura. Okto tampaknya senang bicara dengan mereka berlima. Saya ikut senang karena dua  dari mereka adalah kenalan Okto ketika mereka di penjara di Nabire.

Saya terakhir bertemu Okto di kantor Kontras Papua, Abepura, pada November 2015. Dia sedang mempersiapkan perjalanannya ke Amerika Serikat, ikut program dari State Department. Saya kebetulan juga diundang ikut program sama namun gelombang sesudah Okto. Jadi kami banyak bicara soal persiapan. Maklum musim dingin.

Saya juga mengeluh soal saya dicurigai sebagai mata-mata. Ada saja gosip di Jayapura bahwa saya bekerja sebagai mata-mata. Okto bilang diabaikan saja. Dia bilang orang  yang memulai  gosip tersebut juga pernah membuat  fitnah soal dirinya. Kami bicara soal pakaian apa yang harus dibawa. Dia bilang kesehatannya membaik, terlihat bugar walau agak kurus.

“Kalau kau dengar semua omongan orang, kau trada kerja apapun,” katanya

Dari Facebook, Desember 2015, saya lihat dia pergi ke Cleveland, St. Louis, San Diego di California maupun Washington DC.

Di St. Louis, Missouri, Okto menulis dalam Facebook, “Kita mendengar banyak pemaparan tentang kebrutalan  dan kebiadaban polisi di kota Ferguson, kota yang hampir 90% penduduknya dihuni kulit hitam. Polisi berjumlah 54 orang, hanya tiga polisi kulit hitam. Di kota ini pemuda kulit hitam pakai celana gombrang ala anak2 R&B bisa kena denda, kota penuh diskriminasi-rasialis.”

“Kelakuan polisi di Ferguson hampir sama dengan di Papua, tapi saya kira di Papua lebih parah; su diskriminasi-rasialis, ditambah dengan kekerasan, pemukulan, penangkapan, pemenjaraan dan bahkan orang Papua sudah sering ditembak bak hewan.”

Saya tak bisa bayangkan betapa dingin Amerika Serikat buat Okto Pogau. Dingin bukan saja dari  suhunya yang dibawah suhu normal tapi juga diskriminasi dan rasialisme.

Ketika dia  pulang  dari  Amerika Serikat, saya hendak berangkat ke pada 8 Januari 2016. Kami bicara lewat telepon. Saya sudah di Jakarta. Okto di Jayapura. Dia bilang soal pakaian. Dia tanya dari sepatu, kaos kaki, sarung tangan, model jaket saya. Dia bilang dingin sekali di Amerika Serikat. Dia mengomel sedikit soal saya tak hubungi dia lebih awal.

Pada 31 Januari 2016, saya berada di Salt Lake City, kota penuh salju, dingin sekali tapi indah, dan saya membaca di berbagai Facebook teman-teman saya bahwa Oktovianus Pogau meninggal dunia.  Saya kaget sekali. Rasanya baru saja bicara lewat  telepon soal jaket  dan kaos  kaki.

Kami sangat kehilangan Okto. Saya berdoa buat Okto dari Salt Lake City. Dia wartawan yang berani dan cerdas. Namun saya juga sadar lewat tulisan, goresan kata-katanya, Oktovianus Pogau akan hidup selamanya dan selalu dikenang oleh bangsa Papua.

Ruth Ogetay bekerja di Yayasan Pantau buat bantu kesehatan para tahanan politik Papua. 

5 Hal ini yang Membuat Anak Mudah Papua Sulit Bersaing di Indonesia

artikel

Kami percaya tidak ada manusia yang bodok, yang ada hanya manusia malas. Dan tidak ada pernah mendapat kesempatan. Disinilah meja politik

KABARWEKO – Percaya atau tidak generasi Papua saat ini hidup dalam situasi yang terobang-abing oleh badai politik yang menyerang Papua dari segala sisi. Situasi itu membuat mereka terus terpuruk dalam tekanan yang selanjutnya turut membunuh mental dan jiwa bersaingnya untuk maju dan menentukan masa depan yang layak.

Mereka bukan hanya di hadapkan pada pilihan untuk memperjuangkan hak-hak bangsa Papua ataukah bersaing dengan anak-anak mudah lain di Indonesia untuk mencapai prestasi yang setingi-tingginya tetapi juga terhadap pilihan apakah mereka harus menjaga tanah nenek moyangnya yang terus dirampas pendatang.

Sementara itu, kenakalan remaja terus menyapu generasi emas di negeri emas yang pada ujungnya berakhir pada pilihan ikut terjerumus ataukah tetap pada pendiriannya sebagai seorang anak mudah yang taat pada ketiga norma. Adat, agama dan pemerintah yang tidak memihak. Bukan hanya itu, tetapi banyak pilihan yang datang silih bergati mengikuti arus politik yang terus berubah.

Arus itu bukan hanya membuat anak muda Papua terpuruk, tetapi juga turut melanda tanah Papua serta isinya. Ibarat bola putih yang terus dimainkan di atas meja politik. Pada setiap dobrakannya menyapuh dan membubarkan kebersatuhan anak muda Papua yang sejak puluhan tahun dibangun orang tua mereka.

Berbicara tentang anak mudah Papua berarti kita bicara tentang keberlangsungan manusia Papua di atas tanah Papua dan juga agar “surga kecil yang jatuh kebumi” itu tidak menjadi antonim yang sangat ngeri untuk disimak.

Jujur  selama ini ada satu hal yang kadang membuat dihaimoma gelisa.  Anak mudah Papua hari ini, adalah penentu kehidupan anak mudah Papua yang akan datang. Pilihan anak mudah hari ini akan membentuk watak generasi mendatang.Dan karena anak muda hari ini, anak mudah esok akan berani dan gagah dalam bertindak.

Berangkat dari penjelasan di atas, berikut ini dihaimoma.com merangkum 5 hal yang membuat anak mudah Papua sulit bersaing dengan anak mudah lain di Indonesia.

Pertama -Rata-rata anak muda Papua sejak menginjak dewasa bukan hanya perpikir untuk mengenyam pendidikan setingi-tingginya. Mereka dihadapkan pada berbagai pilihan yang terjadi dalam realitas kehidupan masyarakat Papua.

Hutan mereka mulai gundul akibat ilegal loging. Tanah-tanah kelas A dirampas pendatang. Bapak, ibu, serta adik dan kakak mereka  terkadang harus diantar paksa tima panas. Ketika pengedar minuman keras dilindungi UU dan peminumnya di bunuh ibarat binatang buruan.  Dan ketika mereka bersuara, Mereka terus dituduh OPM dan separatis yang pada ujungnya berurusan dengan hukum.

Jadi beban yang dipikul anak mudah Papua tidak hanya soal makan dan minum seperti kebanyakan anak mudah lainya di Indonesia. Poin ini menandakan bahwa anak muda Papua sangat berbedah jauh dengan kebanyakan anak mudah di Indonesia yang berpikirnya hanya, kuliah, diterima di lapangan pekerjaan, sukses, dan menghidupi keluarga.

Kedua- Kebanyakan anak mudah Papua sulit bersaing karena negara membunuh mereka secara psikologis. Kata-kata seperti Papua itu tertinggal, terbelakang, bodok, dan manusia setengah binatang (seperti kasus Yogya belum lama ini). Hal-hal ini menandakan, anak mudah Papua tidak hanya di bunuh secara fisik tetapi juga secara psikologis sehingga membunuh jiwa  dan mental bersaing mereka.

Poin ini menandakan bahwa anak mudah Papua bukan hanya di tekan secara fisik tetapi juga  mental dan jiwa. Ya. Situasi ini membuat mereka  benar-benar di bunuh dari akarnya.

Lebih lanjut, jika poin ini kita kaitkan dengan anak mudah lainnya di Indonesia, maka sangat berbeda. Mereka didik dengan metode pembelajaran yang menyenankan dan tidak ada intimidasi dan diskriminasi seperti kata-kata di atas. Ya. Tugas mereka hanya bersekolah mengejar mimpi.

Dari poin-poin di atas kita dapat bertanya dengan Logika sederhana. Jika Papua tertinggal dan terbelakang. Pertanyaan- Pertanyaan yang harus di jawab adalah (1), kemana Sumber Daya Alam surga kecil yang katanya mampu memberi makan puluhan negara itu? (2), Siapa yang mengolahnya?(3), Di olah dengan sistem siapa sampai anak mudah Papua tidak diringankan bebannya? Kondisi ini membuat mereka ibarat tikus mati di atas lumbung padi (4), Sampai kapan pemerintah mampu menghentikan itu?(5) Apakah sumbangam Papua kenegara ini, sebanding dengan  apa yang negara ini berikan untuk tanah Papua?

Poin intinya, Papua di aneksasi negara ini karena sumber Daya Alamnya. Bukan karena Manusianya. Ya. Pembangunan fisik saja, mulai nampak sedikit sejak tahun 1999. Itupun karena kepanikan negara  atas tuntutan kemerdekaan orang Papua.

Ketiga- Di daerah Jawa dan sekitarnya kita ketahui  Orang curi singkon dan sendal saja di hukum apa lagi pejual minuman dan penjual togel. Di Papua malah sebalinya, orang yang mencuri SDA Papua, menjual togel, bandar minuman keras, sampai prostitusi di lindungi UU.
Anehnya lagi, orang yang mabuk karena minuman di tembak mati tanpa proses hukum. Bandar togel di Papua selalu di back up TNI & PORLI,  bahkan  pada tahun 2014 ketika dihaimoma di Nabire. Dihaimoma mendengar dari beberapa masyarakat kalau ada bandar togel terkenal di Nabire yang berstatus sebagai Polisi aktif.

Poin ini ketika kita kaitkan dengan tempat-tempat lain di Indonesia, maka sangat bertolak belakang. Masalah- masalah di atas merupakan tangungjwab pemerintah, terlebih lagi Kepolisian. Dengan demikian para anak mudanya, hanya berpikir untuk sekolah, kuliah dengan aman, dan mengenyam pendidikan setingi-tingginya.

Kalau di Papua hal-hal ini terkadang menjadi tangungjwab anak mudah Papua, tetapi ketika anak mudah Papua melakukan tindakan pasti berurusan dengan hukum, bahkan tidak jarang pulah ada yang berakhir di ujung tima panas.

Jadi tangan heran Brow kalau rata-rata anak mudah Papua tidak suka dengan kata”Militer” apa lagi menghargai dan menghormati mereka sebagai abdi negara. Pasti harus menunggu ayam beranak dulu, baru hal itu bisa terjadi di tanah Papua.

Hal ini harus terjadi karena rata-rata militer di Papua melihat anak mudah Papua ibarat teroris di atas tanah sendiri. Kasus semacam ini dihaimoma pernah mengalaminya sendiri.

Pada tahun 2014 ketika dihaimoma di Jayapura hendak menonton pertandingan persipura melawan salah satu klub di luar Papua. Pada saat  Dihaimoam masuk tribum lapangan Mandala, dari tas sampai dengan saku di periksa ketat oleh militer yang berjaga-jaga di situ. Padahal sekitar 20 orang yang tadi mendahului saya, hanya diperiksa luarnya dengan tiga sampai empat kali sentuhan di badan.

Ketika tas sampai dengan satu celana saya di perikasa ketat. Dihaimoma hanya bergurau ” awas Pak, ada bom buku dalam tas” sembari tersenyum. Dihaimoma yakin, ada banyak hal serupa bahkan lebih yang menimpa orang Papua oleh ulah oknum angota militer di Papua yang sok pintar dengan AK yang digantung pada bahunya.

Kempat- Anda harus tahu tangungjwab anak mudah Papau tidak sama dengan anak mudah lain di Indonesia. Selain itu, tangungjwabnya bukan hanya karena poin-Poin di atas. Satu atau dua anak mudah Papua yang sukses atau paling tidak menjadi PNS. Ia  bukan hanya mengembang tangungjawab dalam mengatur, memfasilitasi, dan menghidupi keluarganya seperti anak mudah lainnya di Indonesia.

Satu anak muda bertangungjawab atas hampir semua garis keturunan kedua orang tuanya. Baik dari pihak mama maupun bapak. Bertanggungjawab bukan hanya dalam bentuk moral dan ungkapan tetapi juga dalam bentuk materil dan tindakan.

Sederhananya, kalau bicara soal kekayaan. Dihaimoma yakin rata-rata anak mudah Papua dua kali lebih kaya dari seorang wali kota di Jawa, tetapi rata-rata orang Papua itu tidak mengenal frasa “pelit harta”. Sehingga, harta mereka terkuras oleh besarnya tangungjawab yang mereka embangi. Sebagaimana disingung di atas. Perlu di pahami bahwa hal itu dilakukan bukan atas pemaksaan atau tuntutan, tetapi secara naluri kasih itu tumbuh bersama anak mudah Papua sejak lahir.

Poin ini kadang membuat anak mudah Papua sulit untuk  mementingkan dirinya sendiri (kaya), terlebih khusus untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya dan bersangin dengan anak mudah lainnya di Indonesia. Ya karena zaman sekarang, pendidikan dan uang ibarat tubuh dan Jiwa.

Kelima-Anak mudah Papua itu jarang mengeluh dan stress seperti anak mudah lainnya di Indonesia. Hapir setiap persoalan dibawah santai. Poin ini jika kita kaitkan dengan anak mudah lain di Indonesia, tidak ada uang atau masalah kecil saja di buat ribet dan menjadi perdebatan dan percakapan yang menarik ketika berkumpul. Dalam konteks ini, khusus untuk anak mudah Papua kadang anda akan sulit membedakan antara anak mudah yang berada dan tidak berada. Soalnya,  rata-rata anak mudah Papua dalam menghadapi persoalan yang berkaitan dengan berbagai hal selalu dibawa santai. Termasuk juga soal keuangan.

Dari penjelasan panjang dalam artikel ini anda dapat mengerti sosok anak muda Papua yang terkadang di pandang sangar dan kejam oleh masyarakat non Papua. Sesunggunya, di balik kesangaran fisik yang nampak tersimpan tangungjawab dan beban yang kadang tiga atau empat kali lebih besar dari tubuhnya. Tetapi bagin mereka, persolan itu akan selalu di bawa santai. 

Sampai di sini, bagaimana pendapat anda? Jika anda anak mudah Papua apakah ada yang perlu ditambahkan? Atau jika anda non Papua bagaimana pendapat anda tentang anak mudah Papua. Tinggalkan komentar anda terhadap isi artikel ini.

Boaz Solossa Pensiun Setelah Timnas Indonesia Gagal Juara AFF

boaz-solossa-indonesia-thailand-aff-suzuki-cup-2016_1hyu0g8e6qpew1j3vhmqo513ye

Boaz Solossa (dok)

JAKARTA, (KW) – Keputusan mengejutkan diambil kapten Timnas Indonesia Boaz Solossa seusai final Piala AFF 2016, Sabtu (17/12/2016) di Stadion Rajamangala, Bangkok. 

Timnas Indonesia kalah 0-2 dari Thailand dan dipastikan hanya menjadi runner-up. Thailand juara dengan kemenangan agregat 3-2. Setelah laga selesai, kepada wartawan, Boaz mengucapkan kata perpisahan dengan Timnas Indonesia.

“Mungkin ini saatnya saya istirahat dan memberikan kesempatan kepada pemain-pemain yang lebih muda. Melihat pencapaian di Piala AFF para pemain muda pantas diberi kesempatan lebih ke depannya,” kata Boaz Solossa.

Boaz menilai, pemain muda yang akan menggantikan perannya pada masa depan. Dia pun mengaku sudah cukup bermain di Piala AFF dan tanpa gelar.

“Mereka punya kemampuan untuk meningkatkan prestasi sepak bola Indonesia. Biarlah saya dan Beny Wahyudi, pemain tua mundur. Sudah dua Piala AFF saya bermain dan gagal memberikan gelar juara rasanya sudah cukup, saya akan pikir-pikir lagi soal membela timnas,” ucapnya.

Boaz Solossa tampil apik dalam Piala AFF 2016. Sebagai kapten, dia mampu memimpin rekan-rekannya yang memang didominasi pemain muda. Bintang Persipura Jayapura ini telah mencetak tiga gol untuk skuat Garuda.

Boaz juga memberi selamat kepada Thailand yang meraih gelar kelima mereka di Piala AFF 2016. “Mereka memang unggul secara permainan dan kualitas mereka di atas kami,” kata Boaz.

Boaz Solossa sudah membela Timnas Indonesia tiga kali dalam ajang Piala AFF, yakni pada 2004, 2014, dan 2016. (Sumber: jawapos)