Category Archives: Opini

Perempuan Papua dalam Pagar : Patriarki & Kapitalis

perempuan-papua-dan-pagar-balobe-kaka-jeri

Foto Jerry

“Menerima ketertindasan bukan untuk diam, tapi untuk dilawan. Karena mengembalikan hak dasar perempuan Papua bukan tentang makan minum tapi soal Identitas!“

KABARWEKO – Perempuan Papua didefinisikan dengan banyak karakteristik. Ada yang melihat dari segi fisik yang keras, pertahanan hidup bahkan perilaku dan interaksi dengan masyarakat. Perempuan Papua hari ini sudah jauh dari ketertinggalan-ketertinggalan dahulu yang dibuat oleh para penguasa negara yang seakan menyikirkan keberadaan mereka.

Baca lebih lanjut

Iklan

5 Hal ini yang Membuat Anak Mudah Papua Sulit Bersaing di Indonesia

artikel

Kami percaya tidak ada manusia yang bodok, yang ada hanya manusia malas. Dan tidak ada pernah mendapat kesempatan. Disinilah meja politik

KABARWEKO – Percaya atau tidak generasi Papua saat ini hidup dalam situasi yang terobang-abing oleh badai politik yang menyerang Papua dari segala sisi. Situasi itu membuat mereka terus terpuruk dalam tekanan yang selanjutnya turut membunuh mental dan jiwa bersaingnya untuk maju dan menentukan masa depan yang layak.

Baca lebih lanjut

Penindasan Terhadap Perempuan Mee Pago dalam Perspektif suku Mee

perempuan-mee

Perempuan muda Mee dengan busana adat suku Mee dalam festival Budaya yang diselenggaran di SMA Adhi Luhur. Festival ini diselenggarakan sekali dalam dua tahun. (Filemon Keiya – SP)

Oleh: Kelompok Belajar Perempuan Papua Yogyakarta

JOGYA, (KW) – Kelompok Belajar Perempuan Papua Yogyakarta telah melakukan diskusi seri ke III tentang penindasan terhadap perempuan Mee Pago dalam prespektif suku Mee. Diskusi ini dilakukan pada tanggal 16 september 2016 yang dimulai pukul 19.00 WIB sampai selesai. Ia dihadiri oleh kurang lebih 25 orang yang terdiri dari perempuan dan laki-laki.  Dorlince Iwoyau sebagai pemantik diskusi. Beliau memaparkan sejarah atau budaya suku Mee yang ditulis oleh Mikael Tekege . Dalam pemaparan materi diskusi, pematik juga menyelipkan bentuk-bentuk ketidakadilan terhadap perempuan. Praktek ketidakadilan ini dilegitimasi atas nama adat. Diskusi menjadi hangat setelah menyaksikan Film pendek yang berjudul ‘Perempuan Papua Menuju hari Esok’ .

Film Perempuan Menuju Hari Esok

Film ini menceritakan Perjungan mama-mama suku Mee, khususnya di kabupaten Paniai . Mereka sebagai tulang punggung rumah tangga. Di mana, seorang ibu bangun pagi ke kebun, pulang dari kebun masak, setelah masak harus mencari kayu bakar. Selain itu, beliau juga harus berjualan untuk mendapat uang sampingan sehingga dapat menunjang kehidupan keluarganya.

Film tersebut juga menggambarkan , sosok laki-laki Mee sekarang yang memilih untuk tinggal diam di rumah, suka jalan-jalan. Dan dia belum mengambil peran aktif sebagai sosok yang harus menafkahi keluarga.

Diskusi menjadi hangat ketika beberapa kawan putri yang menyoroti permasalahan yang dihadapi mama-mama Mee dan sosok laki-laki zaman sekarang yang gagal menjalankan peran. Berulang kali dikatakan “laki-laki hanya tau bikin anak, tidak tau bekerja di kebun, tidak bisa cari kayu bakar, dia hanya tau buat proposal. Setelah dapat uang tidak tau uangnya dikemanakan. Entahlah, uang tersebut untuk mace paha putih dong ka? Atau bir di toko habis ka?, uang di hotel bintang berapa atau hotel melati apa? hanya dong sendiri yang tau”.

Maria Baru menjelaskan tentang bergesernya tanggung jawab seorang laki-laki Papua yang zaman dulu hingga sekarang. Dia menjelaskan secara singkat bahwa, dahulu kita (orang Papua) berada pada jaman komunal. Di mana zaman itu, banyak orang Papua belum mengenal perbedaan kelas antara laki-laki dan perempuan, jadi semua pekerjaan dilakukan bersama.

Namun berkembangnya zaman, ketika pemerintah masuk di tanah Papua, orang non Papua masuk, banyak pemekaran-pemekaran kabupaten baru, memengaruhi pergeseran tanggung jawab seorang laki-laki Papua yang sejatinya menjadi tulang punggung keluarga.

Dalam film perempuan Papua menuju hari esok,  juga mengangkat bagimana para mama dari Paniai diberi uang dana respek Rp. 15 juta rupiah.

Dana tersebut digunakan oleh mama untuk modal usaha dan simpan pinjam.  Dalam film tersebut juga, menceritakan kondisi pendidikan di Paniai. Banyak anak murid , tetapi anak murid ini harus menerima pelajaran dalam kondisi gedung yang tidak layak, seperti fasilitas gedung kelas tidak memadai. Bentuk gendung selayaknya gubuk-gubuk di kebun. Minimnya tenaga didik sehingga seorang guru harus mengajar dari kelas satu SD sampai kelas enam SD.

Marginalisasi Terharap Perempuan

Marginalisasi terhadap perempuan di Papua, secara khusus di wilayah paniai dalam hal pendidikan,  apalagi pendidikan adat.

Masyarakat suku Mee dulunya masih menganut pendidikan lisan melalui dekonstruksi bahasa. Dimana anak-anak mereka diajarkan secara lisan, namun terpisah antara perempuan dan laki-laki. Anak laki-laki diajarkan oleh ayahnya tentang cara memburuh, membuat pagar, anak panah, perang, dan cara memutuskan sesuatu dalam keluarga dan masyarakat. Sementara perempuan diarahkan dalam cara memelihara ternak, bercocok tanam, memasak, merawat dan membesarkan anak. Jadi perempuan itu diarahkan dalam urusan dosmetik , sedangkan pengambilan keputusan adalah di tangan seorang pria.

Seiring berjalannya waktu, pendidikan formal datang dengan kurikulum yang berbeda dengan budaya masyarakat setempat, hal ini membuat mereka merasa terbelakang. Dalam artian, masyarakat yang masih hidup dalam pendidikan lisan tidak dapat memahami pendidikan formal yang datang begitu saja tanpa mengetahui dahulu perkembangan pendidikan setempat. Dalam masa-masa ini juga, masyarakat suku Mee, khususnya perempuan masih termarginalisasi dalam hal pendidikan. Perempuan masih dianggap sebagai sumber uang untuk laki-laki bersekolah.

Sisi Skonomi

Masyarakat suku Mee disebut sebagai masyarakat agraria, masyarakat yang hidup dengan bertani dan berternak. Oleh sebab itu sebagian besar masyarakatnya memeliahara ternak seperti babi dan hewan ternak lainnya. Ternak babi sendiri mempunyai nilai ekonomi dan sosial yang dapat mengangkat martabat seseorang laki-laki, jika mempunyai babi yang banyak. Maka seorang perempuan Mee/istri , diharuskan untuk memelihara babi agar memperkaya laki-lakinya. Ini tentu saja terjadi diskriminasi pada perempuan apalagi masih banyak aktivitas yang domestik yang dilakukan perempuan selain memelihara babi . Pendiskriminasi itu kita bisa lihat dari seorang perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia bertugas di dalam dan luar rumah utuk mempertahankan kehidupannya sendiri maupun anak dan suaminya.

Kesehatan

Diskriminasi dalam pembagian kerja dalam kehidupan sehari-hari juga mengganggu kesehatan kaum perempuan suku Mee.  Perempuan yang sudah memiliki suami atau sering disapa Mama-mama, harus bekerja tiga kali lipat dalam pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari. Hal yang memprihatinkan adalah ketika perempuan tersebut memiliki bayi dan beberapa orang anak. Mereka harus memenuhi kebutuhan semua anaknya juga menyusui bayinya. Padahal kenyataannya asupan gizi seperti untuk ibu dan stamina tidak memungkinkan hal ini berjalan dengan baik.

Namun inilah bentuk perjuangan tanpa batas untuk melampaui batas-batas pemikiran sebagai idealnya perempuan Mee. Namun sebenarnya jika tidak diperhatikan dengan baik kondisi kesehatan Mama, maka anak juga rentan terserang penyakit Flu, diare , dan beberapa penyakit lainnya.

Tantangan terbesar lainnya yang dialami oleh Mama-mama bahkan perempuan suku Mee hingga hari ini adalah adalah  Penyakit HIV/AIDS.  Penyakit ini tidak pernah dibayangkan dan dimengerti oleh masyarakat Mee pada umumnya. Namun akibat perubahan yang mengatasnamakan pembangunan dan aktivitas seksual yang tidak pada tempatnya membuat mama-mama dan perempuan menjadi korban.

Lingkungan hidup perempuan Mee sangat berkaitan dengan alam. Alam menjadi sumber kehidupan. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah perubahan sosial masyarakat hadir, yakni metode mengelola ternak.

Metode Mengelola Ternak

Pada film terekam masih ada ternak babi yang berkeliaran di jalan raya. Pada saat hewan tersebut mengeluarkan tinja di sembarang tempat dapat menjadi sumber penyakit akibat bakteri yang berkembang biak di dalamnya. Apalagi terlihat kebanyakan masyarakat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki.

Hal ini patut menjadi perhatian kita bersama. Masalah baru  di kemudian hari, jika babi yang dibiarkan tidak dikandangkan ini ditabrak oleh kendaraan. Karena sudah banyak pengguna kendaraan. Jika babi tertabrak hingga  ‘mati’  maka akan kena ‘denda’ atau ganti rugi ternak tersebut. Denda juga sering menimbulkan ketegangan antara pengguna kendaraan dengan peternak babi.

Permasalahan yang dialami oleh perempuan suku Mee sampai hari ini merupakan permasalahan yang dihadapi perempuan Papua di tempat yang berbeda. Masalah cultural,patriarki (kekuasaan kaum bapak) serta dampak –dampak sosial yang mengatasnamakan pembangunan menyudutkan atau memarginalisasi keberadaan perempuan Papua.

Solusi yang ditawarkan dalam diskusi ini adalah perempuan harus berani untuk meraih pendidikan secara formal setinggi –tingginya. Perempuan juga dituntut untuk lebih kritis dan jeli dalam mengenal bentuk-bentuk perilaku tidak adil padanya tanpa melupakan identitasnya sebagai perempuan Papua.

Perempuan Papua juga lebih aktif dalam kegiatan belajar informal untuk menambah kemampuan lain yang tidak diberikan di pendidikan non formal. Perempuan Papua juga dituntun harus bisa merangkul menjadi solusi atas ketidak adilan yang dialami semua perempuan di wilayah Papua. Dikutip dari film  “perempuan menuju hari esok”.

‘Peningkatan kapasitas kaum perempuan pada gilirannya akan meciptakan perkembangan hidup masyarakat Papua secara umum’

Penulis adalah Kelompok Belajar Perempuan Papua Yogyakarta. Artikel ini merupakan hasil diskusi Kelompok Belajar Perempuan Papua Yogyakarta di Yogyakarta.

Sumber: suarapapua.com

Renung Relung Derita Kita

victor-yeimo-west-papua-national-committe-knpb-chairman4

Victor Yeimo, Aktivis Papua Papua Merdeka

JAYAPURA, (KW) – Tidak perlu heran dan bersedih bila pembantaian harus terus terjadi. Sadari saja diri kita sebagai bangsa yang sedang terkoloni. Adalah keharusan bagi kolonial untuk menjalankan sistem dan praktek kolonialisme diatas wilayah koloninya. Jangan berharap keadilan dalam hukum kolonial, sebab kolonialisme hanya bertujuan untuk memusnahkan manusia dan menguasai wilayahnya.

2 orang pelajar yang ditembak di Timika, Kemarin (28/09/2015) oleh polisi kolonial Indonesia adalah satu bagian terkecil dari operasi pembantaian yang sedang terjadi. Lihatlah hampir 5 hingga 10 mayat anak negeri setiap hari keluar dari Rumah-rumah sakit yang ada di Papua; Hitunglah berapa mayat yang mati misterius di mana-mana tanpa diketahui setiap hari; tengoklah berapa kematian ibu hamil dan bayi di Rumah-rumah sakit itu; Bertanyalah mengapa banyak anak negeri yang mandul dan tak bisa memperbanyak generasi Papua; Sudahkah anda tahu bahwa kapal putih yang masuk 3 kali seminggu memuntahkan 2000 pendatang setiap kapalnya?

Sudahlah, terlalu banyak penderitaan yang harus diurai. Apakah memang kita tercipta diatas tanah ini untuk hidup menangisi penderitaan? Bukankah anda pun tahu bahwa hukum kolonial, media kolonial, dan semua perangkat kolonial tidak akan berpihak pada tangis penderitaan kita? Lantas, sampai kapan kita terus berdiam diri sambil terhanyut hingga pada muara pemusnahan? Bila begitu, senang-senanglah, hibur-hiburlah, puas-puaskan sajalah diri anda terus-menerus dalam kenikmatan sesaat yang disugukan kolonial padamu, sebelum sampai di muara itu.

Dan kami disini, di jalur yang setiap hari kau takuti, yang kau asingkan, yang kau lupakan, yang kau malas tahu, yang kau caci maki, yang kau hina, dan yang kau khianati akan berdiri, berjejer mengepal tangan perlawanan. Bagi kami, itulah jalur utama, bukan alternatif, untuk membebaskan bangsa ini. Perlawanan melawan kolonialisme Indonesia adalah satu-satunya cara kita untuk menghapus penderitaan ini. Hari ini kami tidak butuh tangis pilu anda, berapun banyaknya. Simpan saja jauh-jauh. Dunia pun tak akan peduli, apalagi kami. Yang kami butuh jiwa pemberontakan anda di arena perlawanan yang sedang bergulir; yang kami butuh dan hormati adalah perderitaan bersama di jalur perjuangan ini.

Sadarilah! kita adalah generasi perjuangan bukan bukan generasi penikmat! Untukmu rakyat yang terus mati dibantai kolonial Indonesia, diatas pusara dan tulang-belulangmu yang berserakah, kaki kami akan terus berdiri kokoh dan melangkah maju merebut cita-cita pembebasan bangsa: revolusi!

Kita Pasti Mengakhiri

Victor Yeimo.

Kamwolker, 30 September 2015

Indonesia Gagal Mengindonesiakan Orang Papua

320670_10152315603945010_906905607_nFoto gambar SBY di london.
JAYAPURA, (KW) – Hingga saat ini negara Indonesia telah gagal mengindonesiakan orang Asli Papua (OAP) ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Meskipun umur bangsa Indonesia sudah mencapai 70 tahun, namun Indonesia gagal mengindonesiakan orang Papua karena banyak kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Tanah Papua yang belum diselesaikan,”
walaupun hari ini Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun yang ke-70, tetapi orang Papua sama sekali tidak merasakan kehadiran bangsa Indonesia di Tanah Papua.

“Orang Asli Papua (OAP) bisa merasakan kemerdekaan hanya 1 Desember, sebagai hari kemerdekaan bangsa Papua,”

hingga saat ini OAP tetap meminta Indonesia melepaskan dan memberikan kemerdekaan politik kepada bangsa Papua.

“Karena itu memang tuntutan OAP, Indonesia membebaskan Papua dari penjajahan, dan memberikan kemerdekaan politik,”