Perempuan Papua dalam Pagar : Patriarki & Kapitalis

perempuan-papua-dan-pagar-balobe-kaka-jeri

Foto Jerry

“Menerima ketertindasan bukan untuk diam, tapi untuk dilawan. Karena mengembalikan hak dasar perempuan Papua bukan tentang makan minum tapi soal Identitas!“

Perempuan Papua didefinisikan dengan banyak karakteristik. Ada yang melihat dari segi fisik yang keras, pertahanan hidup bahkan perilaku dan interaksi dengan masyarakat. Perempuan Papua hari ini sudah jauh dari ketertinggalan-ketertinggalan dahulu yang dibuat oleh para penguasa negara yang seakan menyikirkan keberadaan mereka.

Ada dua perpektif yang bisa kita lihat dari persoalan-persoalan perempuan Papua, yang bisa dilihat dari persoalan perempuan secara umum dan khusus.

Perempuan Dalam Genggaman Kekuasaan

Dalam buku Perempuan, Agama dan Masa Depan Demokrasi, yang ditulis oleh Banawiratma dijelaskan bahwa ketidakadilan terhadap kaum perempuan terjadi dalam keluarga dan dalam pembagian kerja dan keuntungan. Begitu pula dalam hidup beragama dan bermasyarakat tidak terdapat persaudaraan yang sederajat. Sederajat atau setara tidak berarti bahwa laki-laki dan perempuan sama saja. Perempuan dan laki-laki memang berbeda namun perbedaan itu sebagai alasan untuk mendiskriminasikan tidak dapat diterima. Banyak sekali perempuan mengalami pelecehan, kekerasan dan diperlakukan sebagai komoditi (barangjualan) (Banawiratma, 2007).

Padahal jika kita tinjau ke belakang, pergerakan perempuan sudah dimulai dari abad ke-17. Berawal dari negara-negara di Eropa yang menyadari bahwa perempuan selalu dirugikan dalam lingkungan kehidupan dalam menjalankan hak-hak sebagai manusia.

Salah satu pakar sejarah, Philip. J. Adler dalam bukunya World Civilization menggambarkan bagaimana kekejaman masyarakat barat dalam memandang dan memperlakukan perempuan.Sampai pada abad ke-17, masyarakat Eropa secara umum pemerintah dan para kaum laki-lakimasih memandang perempuan sebagai jelmaan setan (roh jahat) atau alat bagi setan untuk menggoda manusia dan meyakini bahwa sejak awal penciptaannya, perempuan merupakan ciptaan yang tidak sempurna.

Dari kedua pemikiran di atas menunjukkan sesungguhnya perlawanan dan penolakan terhadap perilaku tidak adil, dilakukan sejak lama namun, pada prakteknya masih ada kompromi-kompromi karena ada keterikatan terhadap budaya. Baik dari budaya lokal, mau pun budaya modern saat ini.

Sedangkan Banawiratma hendak menjelaskan bahwa sampai hari ini masih ada sekat-sekat yang dibuat di kalangan masyarakat majemuk untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan.

Adapun benang merah dari kedua pemikiran ini yang juga adalah budaya patriarki. Patriarki berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani: pater artinya bapak dan arche artinya kekuasaan. Sehingga patriarki merupakan kekuasaan bapak (kaum laki-laki) yang mendominasi, mensubordinasikan dan mendiskriminasikan kaum perempuan. Cara hidup pun menjadiandrosentris yaitu andro yang berasal dari bahasa yunani laki-laki dan sentrum yang artinya pusat, sehingga laki-laki menjadi pusat segala kehidupan dan perempuan dimarginalkan.Patriarki merengut hak-hak dasar perempuan sebagai manusia seutuhnya. Bahkan kasus budaya patriarki juga merajalela di kalangan masyarakat Papua.

Dalam Jurnal Kasniah yang diterbitkantahun 2006, dijelaskan mengenai kondisi kesehatan perempuan-perempuan di Lembah Baliem sangat memprihatiankan.

Kurangnya jaminan ekonomi bagi wanita di lembah baliem akan menjadikan kondisi yang serius selama musim kemarau panjang, penduduk menjadi kelaparan, krisis itu tampak pada dimensi gender.

Bila dihitung dengan mata pencaharian, kegiatan sehari-hari dan konsumsi sangat ditentukan secara kultural berdasarkan status, peranan dan posisi wanita dalam keluarga.

Dalam jurnal tersebut juga mendiskripsikan bagaimana dalam pembagian tugas dalam tatanan kehidupan. Perempuan ditugaskan mengurusi kebun yang telah dibersihkan oleh laki-laki lalu mengurusi anak-anak, juga atas perekonomian keluarga lalu menyajikan makanan dan itu pekerjaan sehari-hari, sedangkan porsi nutrisi yang dikonsumsi olehnya lebih sedikit. Karena perempuan harus mendahulukan lelaki dan anak-anak.

Mungkin kasus ini belum merepresentasi kehidupan perempuan Papua pada umumnya, namun setidaknya sedikit menggambarakan tentang culture yang belum menjadi solusi atas keutuhan hak-hak dasar perempuan Papua.

Di waktu yang bersamaan, masuklah para modal dan kekuasaan negara Indonesia di Papua.Kehadiran mereka bukan membantu keberadaan perempuan Papua, justru memberatkan perjuangan perempuan Papua dalam meperoleh hak-hak dasar sebagai manusia.

Negara Indonesia justru sebagai agen untuk pemegang modal (kapitalis). Hadir dan menghancurkan sistem masyarakat Papua. Buah dari kehancuran sistem ini, signifikan salah satu korbannya adalah penindasan terhadap perempuan Papua.

Adapun sejarah Indonesia yang hadir di Papua dengan pendekatan militer. Ottow dalam MPE mengitup (di bawah bendera revolusi Jilid I hal 427) dalam pidato pada tanggal 17 Agustus 1960,Soekarno mengatakan, “Maka adalah suatu keharusan bahwa kabinet kerdja melaksanakan politik pembebasan Irian Barat (sekarang Papua) setjara revolusioner menurut bahasa sendiri revolusi Nasional Indonesia”.

Lalu Ottow menuliskan bahwa persiapan militer bagi operasi pembebasan Irian Barat mulai dilakukan dengan pengiriman delegasi ke berbagai negara untuk melobi pembelian senjata(Ottow, 1998).

Selama tujuh tahun (1962-1969) Indonesia telah melakukan berbagai tindakan kekejaman kemanusian sebelum, pada saat dan sesudah Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada tahun1969. Terbukti akhirnya dalam proses penentuan nasib sendiri pada tahun 1969, kekuatan militer Indonesia lebih dominan dalam proses penentuan pendapat dan menghalalkan semua cara, mengintimidasi rakyat dan akhirnya militer Indonesia memenangkan Pepera tersebut (Wonda,2009).

Pendekatan militer ini tidak terhenti setelah Pepera dilakukan. Namun, justru hingga hari ini ada banyak sekali pelanggaran Hak Asasi manusia (HAM) yang terjadi akibat pendekatan militer.Perempuan pun menjadi korban kekerasan fisik, mental dan seksual dari pendekatan militer.

Yang terjadi hingga sampai saat ini, perempuan Papua dalam genggaman kekuasaan Negara sebagai agen kapitalis di Papua. Genggaman inilah yang menurut saya, perempuan Papua terkurung dalam pagar-pagar yang terbentuk.

Perempuan Papua Dalam Pagar

Kekuasaan Negara maupun pemegang modal menghancurkan tatanan kehidupan masyarakatPapua, hal ini menyebabkan dampak buruk dialami anak dan perempuan. Kekerasan seksual, fisik dan mental pun tak luput dan terus terjadi hingga sampai saat ini.

Pelanggaran HAM yang dialami oleh perempuan Papua yang berhasil direkam oleh International Coalition For Papua(ICP), Rekomendasi LIPI dan KOMNAS HAM dari periode 2012-1014 (hal 54-56), sudah lebih dari 1700 perempuan diwawancara mengenai pengalaman mereka dalam hal kekerasan, diskriminasi dan marjinalisasi.

Disimpulkan bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah hal yang menjadi tantangan hidup perempuan Papua hari ini. Kemudian menjadi tantangan baru ketika dilaporkan ke polisi (pihak keamanan sipil). Namun, jarang mendapat tanggapan yang baik karena pihak keamanan ini sering terlibat dalam kekerasan tersebut.

Melihat keadaan seperti ini, yang mana jarang mendapat tanggapan dari pihak kepolisian bahkan perhatian khusus. Dimungkinkan kasus KDRT terhadap perempuan Papua terus terjadi namun tidak terdata.

Kasus poligami, penelantaraan, korban HIV/AIDS, diperlakukan seperti budak itu dalam aktivitas rumah tangga, terpinggirkan aspek ekonomi dalam berjualan di pasar dialami oleh beberapa perempuan Papua hari ini di tempat yang berbeda.

Perempuan Papua adalah korban-korban dari tatanan hidup yang dipaksakan hancur. Tidak didengar, disepelehkan, ditinggalkan menjadi label yang diberikan pengusa negara dan pemegang modal kepada mereka. Tujuannya agar kepercayaan diri, moral, daya juang dan kerja keras hancur lebur, karena dianggap hak-hak dasar mereka lebih rendah dibandingkan kepentingan-kepentingan kapitalis dan agennya.

Dalam film dokumenter Papuan Voice I, judulnya Surat Kepada Prada menampilkan oknumTentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai subjek kekerasan seksual. Praktek-praktek kekerasan yang dilakukan aparat,  terbukti ketika perempuan Papua diperkosa dan payu darah dipotongoleh oknum aparat pada kejadian Biak Berdarah tahun 1998 (wawancara dengan Fillep Karma pada pertengahan Agustus 2016).

Dalam International Coalition For Papua (ICP), Rekomendasi LIPI dan KOMNAS HAM dari periode 2012-1014 dijelaskan juga mama Papua ditembak dua kali setelah meminta aparat untuk mengehentikan penembakan dalam sebuah kasus di Papua.

Pada 8 Desember 2014, mama Marci Yogi mengangkat tangannya untuk meminta agar aparat keamanan menghentikan tembakan pada tragedy pembunuhan empat siswa di di Lapangan Karel Gobay, Enarotali, Paniai. Dua peluru menerjangnya.

Peluru pertama mengenai kitab suci yang diletakan di dalam noken dan yang kedua mengenai tangan kiri mama.

Mama Yulita Edowai ditembak di kaki saat sedang berusaha melarikan diri dari lokasi kejadian. Saksi Mama Agusta Degei yang berada di kebun, antara lapangan Karel Gobai dan lapangan Bandar udarah Paniai..

Kasus-kasus seperti ini sangat sering terjadi, namun karena intimidasi dari aparat keamanan membuat perempuan-perempuan Papua memilih diam dan menerima ini sebagai trauma yang tidak untuk diperdebatkan bahkan dilawan.

Berdasaran diskusi kelompok dan wawancara oleh International Coalition For Papua (ICP), Rekomendasi LIPI dan KOMNAS HAM, lebih dari 1700 perempuan di seluruh wilayah Papua (2012-2014) ada tiga bentuk marginalisasi dan diskriminasi yang dialami oleh perempuan Papua, di antaranya:

  1. Peminggiran perempuan papua dari sistem ekonomi

Faktor penyebab, pertama, kurangnya infrastruktur yang menghubungkan perempuan ke pasar , kedua, transportasi yang mahal membatasi akses ke masyarakat dan pasar dan ketiga, dominasi pedagang non-papua di sektor ekonomi.

  1. Pelemahan identitas dan kemiskinan sebagai akibat dari hilangnya sumber daya alam.

Pengambilan atau perampasan sumber daya alam yang dilakukan oleh investor yang bekerjasama dengan pemerintah nasional dan daerah mengakibatkan masyarakat Papua kehilangan tanah dan sumber daya alamnya.

Bahkan aparat keamanan juga berperan penting dalam mendukung pengalihfungsian lahan hutan. Misalnya di Kabupaten Keroom yang juga aparat keamanan yang bekerja untuk melindungi kepentingan investor.

Keberadaan aparat mengancam keberadaan perempuan Papua karena mereka dilarang untuk pergi ke hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka. Mereka dianggap bagian dari Operasi Papua Merdeka (OPM) jika pergi ke hutan.

Sedangkan identitas perempuan Papua seringkali terkait dengan tanah dan alam, jadi masalah ini bukan terkait, makan dan minum serta mata pencarian bahkan aset ekonomi namun tentang perampasan identitas diri perempuan Papua.

  1. Kurangnya partisipasi politik perempuan Papua

Keterlibatan politik perempuan Papua sangat terbatas karena permasalahan ekonomi dan isolasi, bahkan 30 % kuota dasar perempuan hampir tidak pernah tercapai di Papua.

Perempuan jarang sekali dilibatkan dan mengambil keputusan, baik dalam konteks daerah maupun birokrasi. Permasalahan ini tidak dianggap penting bagi partai-partai politik di Papua.

Dari rentetan kasus yang dilampirkan di atas, menunjukan bahwa budaya patriarki, kehancuran tantanan masyarakat Papua yang dipaksakan hancur, melalui kekuasaan kapitalis dan agennya (negara), seakan  menjadi pagar yang sangat kuat untuk mengurung dan mengisolasikan perempuan Papua.

Semakin hari jika pagar ini tidak digoyahkan, maka pagar itu akan terus kuat. Semakain kuat pagar tersebut, maka semakin banyak perempuan Papua yang memiliki hidup sia-sia karena rasa menerima ketertindasan dijadikan budaya.

Semakin berbeda juga cara kita mendefinisikan perempuan Papua dengan kondisi ketertinggalan seperti ini.

Penulis adalah mahasiswa Papua yang sedang kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Pustaka:

Banawiratma, J, B. 2007. Perempuan , Agama dan Masa depan demokrasi. Lembaga study Islam dan politik: Yogyakarta (hlm. 5)

International Coalition Of Papua Team. 2015. Hak asasi manusia di Papua 2015. laporan keempat yang meliput kejadian sepanjang bulan april 2013 hingga desember 2016.

Kasniah, Naniek. 2006. Health risk of women on production, distribution and consumption of food patterns, jayawijaya–Papua, Jurnal Of humaniora Volume 18 Hal 1-6,Yogyakarta.

Ottow, 1998. Indonesia as state is an accident of the ducth colonial history, sebagai negaraIndonesia terbentuk akibat kecelakanaan sejarah penjajahan belanda. Establising a new state based on a old colonialism and resuming neocolonialism.

Papuan, Voices I . 2012. Surat Cinta Kepada Prada. Engage media: Yogyakarta

Philip J. AdlertWorld Civilization, 2000. (hal. 289) 

Wawancara dengan Filep Karma, Saksi Hidup kejadian Byak berdarah pada tanggal 6 Juli1998. Wawancara dilakukan di Asrama Kamasan I Papua pada pertengahan Agustus 2016

Wonda, S. 2007. Jeritan bangsa rakyat Papua Barat mencari keaadilan, Galang press: Yogyakarta

[Sumber: http://zuzangriapon.blogspot.co.id]

Iklan

5 Hal ini yang Membuat Anak Mudah Papua Sulit Bersaing di Indonesia

artikel

Kami percaya tidak ada manusia yang bodok, yang ada hanya manusia malas. Dan tidak ada pernah mendapat kesempatan. Disinilah meja politik

KABARWEKO – Percaya atau tidak generasi Papua saat ini hidup dalam situasi yang terobang-abing oleh badai politik yang menyerang Papua dari segala sisi. Situasi itu membuat mereka terus terpuruk dalam tekanan yang selanjutnya turut membunuh mental dan jiwa bersaingnya untuk maju dan menentukan masa depan yang layak.

Mereka bukan hanya di hadapkan pada pilihan untuk memperjuangkan hak-hak bangsa Papua ataukah bersaing dengan anak-anak mudah lain di Indonesia untuk mencapai prestasi yang setingi-tingginya tetapi juga terhadap pilihan apakah mereka harus menjaga tanah nenek moyangnya yang terus dirampas pendatang.

Sementara itu, kenakalan remaja terus menyapu generasi emas di negeri emas yang pada ujungnya berakhir pada pilihan ikut terjerumus ataukah tetap pada pendiriannya sebagai seorang anak mudah yang taat pada ketiga norma. Adat, agama dan pemerintah yang tidak memihak. Bukan hanya itu, tetapi banyak pilihan yang datang silih bergati mengikuti arus politik yang terus berubah.

Arus itu bukan hanya membuat anak muda Papua terpuruk, tetapi juga turut melanda tanah Papua serta isinya. Ibarat bola putih yang terus dimainkan di atas meja politik. Pada setiap dobrakannya menyapuh dan membubarkan kebersatuhan anak muda Papua yang sejak puluhan tahun dibangun orang tua mereka.

Berbicara tentang anak mudah Papua berarti kita bicara tentang keberlangsungan manusia Papua di atas tanah Papua dan juga agar “surga kecil yang jatuh kebumi” itu tidak menjadi antonim yang sangat ngeri untuk disimak.

Jujur  selama ini ada satu hal yang kadang membuat dihaimoma gelisa.  Anak mudah Papua hari ini, adalah penentu kehidupan anak mudah Papua yang akan datang. Pilihan anak mudah hari ini akan membentuk watak generasi mendatang.Dan karena anak muda hari ini, anak mudah esok akan berani dan gagah dalam bertindak.

Berangkat dari penjelasan di atas, berikut ini dihaimoma.com merangkum 5 hal yang membuat anak mudah Papua sulit bersaing dengan anak mudah lain di Indonesia.

Pertama -Rata-rata anak muda Papua sejak menginjak dewasa bukan hanya perpikir untuk mengenyam pendidikan setingi-tingginya. Mereka dihadapkan pada berbagai pilihan yang terjadi dalam realitas kehidupan masyarakat Papua.

Hutan mereka mulai gundul akibat ilegal loging. Tanah-tanah kelas A dirampas pendatang. Bapak, ibu, serta adik dan kakak mereka  terkadang harus diantar paksa tima panas. Ketika pengedar minuman keras dilindungi UU dan peminumnya di bunuh ibarat binatang buruan.  Dan ketika mereka bersuara, Mereka terus dituduh OPM dan separatis yang pada ujungnya berurusan dengan hukum.

Jadi beban yang dipikul anak mudah Papua tidak hanya soal makan dan minum seperti kebanyakan anak mudah lainya di Indonesia. Poin ini menandakan bahwa anak muda Papua sangat berbedah jauh dengan kebanyakan anak mudah di Indonesia yang berpikirnya hanya, kuliah, diterima di lapangan pekerjaan, sukses, dan menghidupi keluarga.

Kedua- Kebanyakan anak mudah Papua sulit bersaing karena negara membunuh mereka secara psikologis. Kata-kata seperti Papua itu tertinggal, terbelakang, bodok, dan manusia setengah binatang (seperti kasus Yogya belum lama ini). Hal-hal ini menandakan, anak mudah Papua tidak hanya di bunuh secara fisik tetapi juga secara psikologis sehingga membunuh jiwa  dan mental bersaing mereka.

Poin ini menandakan bahwa anak mudah Papua bukan hanya di tekan secara fisik tetapi juga  mental dan jiwa. Ya. Situasi ini membuat mereka  benar-benar di bunuh dari akarnya.

Lebih lanjut, jika poin ini kita kaitkan dengan anak mudah lainnya di Indonesia, maka sangat berbeda. Mereka didik dengan metode pembelajaran yang menyenankan dan tidak ada intimidasi dan diskriminasi seperti kata-kata di atas. Ya. Tugas mereka hanya bersekolah mengejar mimpi.

Dari poin-poin di atas kita dapat bertanya dengan Logika sederhana. Jika Papua tertinggal dan terbelakang. Pertanyaan- Pertanyaan yang harus di jawab adalah (1), kemana Sumber Daya Alam surga kecil yang katanya mampu memberi makan puluhan negara itu? (2), Siapa yang mengolahnya?(3), Di olah dengan sistem siapa sampai anak mudah Papua tidak diringankan bebannya? Kondisi ini membuat mereka ibarat tikus mati di atas lumbung padi (4), Sampai kapan pemerintah mampu menghentikan itu?(5) Apakah sumbangam Papua kenegara ini, sebanding dengan  apa yang negara ini berikan untuk tanah Papua?

Poin intinya, Papua di aneksasi negara ini karena sumber Daya Alamnya. Bukan karena Manusianya. Ya. Pembangunan fisik saja, mulai nampak sedikit sejak tahun 1999. Itupun karena kepanikan negara  atas tuntutan kemerdekaan orang Papua.

Ketiga- Di daerah Jawa dan sekitarnya kita ketahui  Orang curi singkon dan sendal saja di hukum apa lagi pejual minuman dan penjual togel. Di Papua malah sebalinya, orang yang mencuri SDA Papua, menjual togel, bandar minuman keras, sampai prostitusi di lindungi UU.
Anehnya lagi, orang yang mabuk karena minuman di tembak mati tanpa proses hukum. Bandar togel di Papua selalu di back up TNI & PORLI,  bahkan  pada tahun 2014 ketika dihaimoma di Nabire. Dihaimoma mendengar dari beberapa masyarakat kalau ada bandar togel terkenal di Nabire yang berstatus sebagai Polisi aktif.

Poin ini ketika kita kaitkan dengan tempat-tempat lain di Indonesia, maka sangat bertolak belakang. Masalah- masalah di atas merupakan tangungjwab pemerintah, terlebih lagi Kepolisian. Dengan demikian para anak mudanya, hanya berpikir untuk sekolah, kuliah dengan aman, dan mengenyam pendidikan setingi-tingginya.

Kalau di Papua hal-hal ini terkadang menjadi tangungjwab anak mudah Papua, tetapi ketika anak mudah Papua melakukan tindakan pasti berurusan dengan hukum, bahkan tidak jarang pulah ada yang berakhir di ujung tima panas.

Jadi tangan heran Brow kalau rata-rata anak mudah Papua tidak suka dengan kata”Militer” apa lagi menghargai dan menghormati mereka sebagai abdi negara. Pasti harus menunggu ayam beranak dulu, baru hal itu bisa terjadi di tanah Papua.

Hal ini harus terjadi karena rata-rata militer di Papua melihat anak mudah Papua ibarat teroris di atas tanah sendiri. Kasus semacam ini dihaimoma pernah mengalaminya sendiri.

Pada tahun 2014 ketika dihaimoma di Jayapura hendak menonton pertandingan persipura melawan salah satu klub di luar Papua. Pada saat  Dihaimoam masuk tribum lapangan Mandala, dari tas sampai dengan saku di periksa ketat oleh militer yang berjaga-jaga di situ. Padahal sekitar 20 orang yang tadi mendahului saya, hanya diperiksa luarnya dengan tiga sampai empat kali sentuhan di badan.

Ketika tas sampai dengan satu celana saya di perikasa ketat. Dihaimoma hanya bergurau ” awas Pak, ada bom buku dalam tas” sembari tersenyum. Dihaimoma yakin, ada banyak hal serupa bahkan lebih yang menimpa orang Papua oleh ulah oknum angota militer di Papua yang sok pintar dengan AK yang digantung pada bahunya.

Kempat- Anda harus tahu tangungjwab anak mudah Papau tidak sama dengan anak mudah lain di Indonesia. Selain itu, tangungjwabnya bukan hanya karena poin-Poin di atas. Satu atau dua anak mudah Papua yang sukses atau paling tidak menjadi PNS. Ia  bukan hanya mengembang tangungjawab dalam mengatur, memfasilitasi, dan menghidupi keluarganya seperti anak mudah lainnya di Indonesia.

Satu anak muda bertangungjawab atas hampir semua garis keturunan kedua orang tuanya. Baik dari pihak mama maupun bapak. Bertanggungjawab bukan hanya dalam bentuk moral dan ungkapan tetapi juga dalam bentuk materil dan tindakan.

Sederhananya, kalau bicara soal kekayaan. Dihaimoma yakin rata-rata anak mudah Papua dua kali lebih kaya dari seorang wali kota di Jawa, tetapi rata-rata orang Papua itu tidak mengenal frasa “pelit harta”. Sehingga, harta mereka terkuras oleh besarnya tangungjawab yang mereka embangi. Sebagaimana disingung di atas. Perlu di pahami bahwa hal itu dilakukan bukan atas pemaksaan atau tuntutan, tetapi secara naluri kasih itu tumbuh bersama anak mudah Papua sejak lahir.

Poin ini kadang membuat anak mudah Papua sulit untuk  mementingkan dirinya sendiri (kaya), terlebih khusus untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya dan bersangin dengan anak mudah lainnya di Indonesia. Ya karena zaman sekarang, pendidikan dan uang ibarat tubuh dan Jiwa.

Kelima-Anak mudah Papua itu jarang mengeluh dan stress seperti anak mudah lainnya di Indonesia. Hapir setiap persoalan dibawah santai. Poin ini jika kita kaitkan dengan anak mudah lain di Indonesia, tidak ada uang atau masalah kecil saja di buat ribet dan menjadi perdebatan dan percakapan yang menarik ketika berkumpul. Dalam konteks ini, khusus untuk anak mudah Papua kadang anda akan sulit membedakan antara anak mudah yang berada dan tidak berada. Soalnya,  rata-rata anak mudah Papua dalam menghadapi persoalan yang berkaitan dengan berbagai hal selalu dibawa santai. Termasuk juga soal keuangan.

Dari penjelasan panjang dalam artikel ini anda dapat mengerti sosok anak muda Papua yang terkadang di pandang sangar dan kejam oleh masyarakat non Papua. Sesunggunya, di balik kesangaran fisik yang nampak tersimpan tangungjawab dan beban yang kadang tiga atau empat kali lebih besar dari tubuhnya. Tetapi bagin mereka, persolan itu akan selalu di bawa santai. 

Sampai di sini, bagaimana pendapat anda? Jika anda anak mudah Papua apakah ada yang perlu ditambahkan? Atau jika anda non Papua bagaimana pendapat anda tentang anak mudah Papua. Tinggalkan komentar anda terhadap isi artikel ini.

Penindasan Terhadap Perempuan Mee Pago dalam Perspektif suku Mee

perempuan-mee

Perempuan muda Mee dengan busana adat suku Mee dalam festival Budaya yang diselenggaran di SMA Adhi Luhur. Festival ini diselenggarakan sekali dalam dua tahun. (Filemon Keiya – SP)

Oleh: Kelompok Belajar Perempuan Papua Yogyakarta

JOGYA, (KW) – Kelompok Belajar Perempuan Papua Yogyakarta telah melakukan diskusi seri ke III tentang penindasan terhadap perempuan Mee Pago dalam prespektif suku Mee. Diskusi ini dilakukan pada tanggal 16 september 2016 yang dimulai pukul 19.00 WIB sampai selesai. Ia dihadiri oleh kurang lebih 25 orang yang terdiri dari perempuan dan laki-laki.  Dorlince Iwoyau sebagai pemantik diskusi. Beliau memaparkan sejarah atau budaya suku Mee yang ditulis oleh Mikael Tekege . Dalam pemaparan materi diskusi, pematik juga menyelipkan bentuk-bentuk ketidakadilan terhadap perempuan. Praktek ketidakadilan ini dilegitimasi atas nama adat. Diskusi menjadi hangat setelah menyaksikan Film pendek yang berjudul ‘Perempuan Papua Menuju hari Esok’ .

Film Perempuan Menuju Hari Esok

Film ini menceritakan Perjungan mama-mama suku Mee, khususnya di kabupaten Paniai . Mereka sebagai tulang punggung rumah tangga. Di mana, seorang ibu bangun pagi ke kebun, pulang dari kebun masak, setelah masak harus mencari kayu bakar. Selain itu, beliau juga harus berjualan untuk mendapat uang sampingan sehingga dapat menunjang kehidupan keluarganya.

Film tersebut juga menggambarkan , sosok laki-laki Mee sekarang yang memilih untuk tinggal diam di rumah, suka jalan-jalan. Dan dia belum mengambil peran aktif sebagai sosok yang harus menafkahi keluarga.

Diskusi menjadi hangat ketika beberapa kawan putri yang menyoroti permasalahan yang dihadapi mama-mama Mee dan sosok laki-laki zaman sekarang yang gagal menjalankan peran. Berulang kali dikatakan “laki-laki hanya tau bikin anak, tidak tau bekerja di kebun, tidak bisa cari kayu bakar, dia hanya tau buat proposal. Setelah dapat uang tidak tau uangnya dikemanakan. Entahlah, uang tersebut untuk mace paha putih dong ka? Atau bir di toko habis ka?, uang di hotel bintang berapa atau hotel melati apa? hanya dong sendiri yang tau”.

Maria Baru menjelaskan tentang bergesernya tanggung jawab seorang laki-laki Papua yang zaman dulu hingga sekarang. Dia menjelaskan secara singkat bahwa, dahulu kita (orang Papua) berada pada jaman komunal. Di mana zaman itu, banyak orang Papua belum mengenal perbedaan kelas antara laki-laki dan perempuan, jadi semua pekerjaan dilakukan bersama.

Namun berkembangnya zaman, ketika pemerintah masuk di tanah Papua, orang non Papua masuk, banyak pemekaran-pemekaran kabupaten baru, memengaruhi pergeseran tanggung jawab seorang laki-laki Papua yang sejatinya menjadi tulang punggung keluarga.

Dalam film perempuan Papua menuju hari esok,  juga mengangkat bagimana para mama dari Paniai diberi uang dana respek Rp. 15 juta rupiah.

Dana tersebut digunakan oleh mama untuk modal usaha dan simpan pinjam.  Dalam film tersebut juga, menceritakan kondisi pendidikan di Paniai. Banyak anak murid , tetapi anak murid ini harus menerima pelajaran dalam kondisi gedung yang tidak layak, seperti fasilitas gedung kelas tidak memadai. Bentuk gendung selayaknya gubuk-gubuk di kebun. Minimnya tenaga didik sehingga seorang guru harus mengajar dari kelas satu SD sampai kelas enam SD.

Marginalisasi Terharap Perempuan

Marginalisasi terhadap perempuan di Papua, secara khusus di wilayah paniai dalam hal pendidikan,  apalagi pendidikan adat.

Masyarakat suku Mee dulunya masih menganut pendidikan lisan melalui dekonstruksi bahasa. Dimana anak-anak mereka diajarkan secara lisan, namun terpisah antara perempuan dan laki-laki. Anak laki-laki diajarkan oleh ayahnya tentang cara memburuh, membuat pagar, anak panah, perang, dan cara memutuskan sesuatu dalam keluarga dan masyarakat. Sementara perempuan diarahkan dalam cara memelihara ternak, bercocok tanam, memasak, merawat dan membesarkan anak. Jadi perempuan itu diarahkan dalam urusan dosmetik , sedangkan pengambilan keputusan adalah di tangan seorang pria.

Seiring berjalannya waktu, pendidikan formal datang dengan kurikulum yang berbeda dengan budaya masyarakat setempat, hal ini membuat mereka merasa terbelakang. Dalam artian, masyarakat yang masih hidup dalam pendidikan lisan tidak dapat memahami pendidikan formal yang datang begitu saja tanpa mengetahui dahulu perkembangan pendidikan setempat. Dalam masa-masa ini juga, masyarakat suku Mee, khususnya perempuan masih termarginalisasi dalam hal pendidikan. Perempuan masih dianggap sebagai sumber uang untuk laki-laki bersekolah.

Sisi Skonomi

Masyarakat suku Mee disebut sebagai masyarakat agraria, masyarakat yang hidup dengan bertani dan berternak. Oleh sebab itu sebagian besar masyarakatnya memeliahara ternak seperti babi dan hewan ternak lainnya. Ternak babi sendiri mempunyai nilai ekonomi dan sosial yang dapat mengangkat martabat seseorang laki-laki, jika mempunyai babi yang banyak. Maka seorang perempuan Mee/istri , diharuskan untuk memelihara babi agar memperkaya laki-lakinya. Ini tentu saja terjadi diskriminasi pada perempuan apalagi masih banyak aktivitas yang domestik yang dilakukan perempuan selain memelihara babi . Pendiskriminasi itu kita bisa lihat dari seorang perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia bertugas di dalam dan luar rumah utuk mempertahankan kehidupannya sendiri maupun anak dan suaminya.

Kesehatan

Diskriminasi dalam pembagian kerja dalam kehidupan sehari-hari juga mengganggu kesehatan kaum perempuan suku Mee.  Perempuan yang sudah memiliki suami atau sering disapa Mama-mama, harus bekerja tiga kali lipat dalam pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari. Hal yang memprihatinkan adalah ketika perempuan tersebut memiliki bayi dan beberapa orang anak. Mereka harus memenuhi kebutuhan semua anaknya juga menyusui bayinya. Padahal kenyataannya asupan gizi seperti untuk ibu dan stamina tidak memungkinkan hal ini berjalan dengan baik.

Namun inilah bentuk perjuangan tanpa batas untuk melampaui batas-batas pemikiran sebagai idealnya perempuan Mee. Namun sebenarnya jika tidak diperhatikan dengan baik kondisi kesehatan Mama, maka anak juga rentan terserang penyakit Flu, diare , dan beberapa penyakit lainnya.

Tantangan terbesar lainnya yang dialami oleh Mama-mama bahkan perempuan suku Mee hingga hari ini adalah adalah  Penyakit HIV/AIDS.  Penyakit ini tidak pernah dibayangkan dan dimengerti oleh masyarakat Mee pada umumnya. Namun akibat perubahan yang mengatasnamakan pembangunan dan aktivitas seksual yang tidak pada tempatnya membuat mama-mama dan perempuan menjadi korban.

Lingkungan hidup perempuan Mee sangat berkaitan dengan alam. Alam menjadi sumber kehidupan. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah perubahan sosial masyarakat hadir, yakni metode mengelola ternak.

Metode Mengelola Ternak

Pada film terekam masih ada ternak babi yang berkeliaran di jalan raya. Pada saat hewan tersebut mengeluarkan tinja di sembarang tempat dapat menjadi sumber penyakit akibat bakteri yang berkembang biak di dalamnya. Apalagi terlihat kebanyakan masyarakat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki.

Hal ini patut menjadi perhatian kita bersama. Masalah baru  di kemudian hari, jika babi yang dibiarkan tidak dikandangkan ini ditabrak oleh kendaraan. Karena sudah banyak pengguna kendaraan. Jika babi tertabrak hingga  ‘mati’  maka akan kena ‘denda’ atau ganti rugi ternak tersebut. Denda juga sering menimbulkan ketegangan antara pengguna kendaraan dengan peternak babi.

Permasalahan yang dialami oleh perempuan suku Mee sampai hari ini merupakan permasalahan yang dihadapi perempuan Papua di tempat yang berbeda. Masalah cultural,patriarki (kekuasaan kaum bapak) serta dampak –dampak sosial yang mengatasnamakan pembangunan menyudutkan atau memarginalisasi keberadaan perempuan Papua.

Solusi yang ditawarkan dalam diskusi ini adalah perempuan harus berani untuk meraih pendidikan secara formal setinggi –tingginya. Perempuan juga dituntut untuk lebih kritis dan jeli dalam mengenal bentuk-bentuk perilaku tidak adil padanya tanpa melupakan identitasnya sebagai perempuan Papua.

Perempuan Papua juga lebih aktif dalam kegiatan belajar informal untuk menambah kemampuan lain yang tidak diberikan di pendidikan non formal. Perempuan Papua juga dituntun harus bisa merangkul menjadi solusi atas ketidak adilan yang dialami semua perempuan di wilayah Papua. Dikutip dari film  “perempuan menuju hari esok”.

‘Peningkatan kapasitas kaum perempuan pada gilirannya akan meciptakan perkembangan hidup masyarakat Papua secara umum’

Penulis adalah Kelompok Belajar Perempuan Papua Yogyakarta. Artikel ini merupakan hasil diskusi Kelompok Belajar Perempuan Papua Yogyakarta di Yogyakarta.

Sumber: suarapapua.com

Renung Relung Derita Kita

victor-yeimo-west-papua-national-committe-knpb-chairman4

Victor Yeimo, Aktivis Papua Papua Merdeka

JAYAPURA, (KW) – Tidak perlu heran dan bersedih bila pembantaian harus terus terjadi. Sadari saja diri kita sebagai bangsa yang sedang terkoloni. Adalah keharusan bagi kolonial untuk menjalankan sistem dan praktek kolonialisme diatas wilayah koloninya. Jangan berharap keadilan dalam hukum kolonial, sebab kolonialisme hanya bertujuan untuk memusnahkan manusia dan menguasai wilayahnya.

2 orang pelajar yang ditembak di Timika, Kemarin (28/09/2015) oleh polisi kolonial Indonesia adalah satu bagian terkecil dari operasi pembantaian yang sedang terjadi. Lihatlah hampir 5 hingga 10 mayat anak negeri setiap hari keluar dari Rumah-rumah sakit yang ada di Papua; Hitunglah berapa mayat yang mati misterius di mana-mana tanpa diketahui setiap hari; tengoklah berapa kematian ibu hamil dan bayi di Rumah-rumah sakit itu; Bertanyalah mengapa banyak anak negeri yang mandul dan tak bisa memperbanyak generasi Papua; Sudahkah anda tahu bahwa kapal putih yang masuk 3 kali seminggu memuntahkan 2000 pendatang setiap kapalnya?

Sudahlah, terlalu banyak penderitaan yang harus diurai. Apakah memang kita tercipta diatas tanah ini untuk hidup menangisi penderitaan? Bukankah anda pun tahu bahwa hukum kolonial, media kolonial, dan semua perangkat kolonial tidak akan berpihak pada tangis penderitaan kita? Lantas, sampai kapan kita terus berdiam diri sambil terhanyut hingga pada muara pemusnahan? Bila begitu, senang-senanglah, hibur-hiburlah, puas-puaskan sajalah diri anda terus-menerus dalam kenikmatan sesaat yang disugukan kolonial padamu, sebelum sampai di muara itu.

Dan kami disini, di jalur yang setiap hari kau takuti, yang kau asingkan, yang kau lupakan, yang kau malas tahu, yang kau caci maki, yang kau hina, dan yang kau khianati akan berdiri, berjejer mengepal tangan perlawanan. Bagi kami, itulah jalur utama, bukan alternatif, untuk membebaskan bangsa ini. Perlawanan melawan kolonialisme Indonesia adalah satu-satunya cara kita untuk menghapus penderitaan ini. Hari ini kami tidak butuh tangis pilu anda, berapun banyaknya. Simpan saja jauh-jauh. Dunia pun tak akan peduli, apalagi kami. Yang kami butuh jiwa pemberontakan anda di arena perlawanan yang sedang bergulir; yang kami butuh dan hormati adalah perderitaan bersama di jalur perjuangan ini.

Sadarilah! kita adalah generasi perjuangan bukan bukan generasi penikmat! Untukmu rakyat yang terus mati dibantai kolonial Indonesia, diatas pusara dan tulang-belulangmu yang berserakah, kaki kami akan terus berdiri kokoh dan melangkah maju merebut cita-cita pembebasan bangsa: revolusi!

Kita Pasti Mengakhiri

Victor Yeimo.

Kamwolker, 30 September 2015

Indonesia Gagal Mengindonesiakan Orang Papua

320670_10152315603945010_906905607_nFoto gambar SBY di london.
JAYAPURA, (KW) – Hingga saat ini negara Indonesia telah gagal mengindonesiakan orang Asli Papua (OAP) ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Meskipun umur bangsa Indonesia sudah mencapai 70 tahun, namun Indonesia gagal mengindonesiakan orang Papua karena banyak kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Tanah Papua yang belum diselesaikan,”
walaupun hari ini Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun yang ke-70, tetapi orang Papua sama sekali tidak merasakan kehadiran bangsa Indonesia di Tanah Papua.

“Orang Asli Papua (OAP) bisa merasakan kemerdekaan hanya 1 Desember, sebagai hari kemerdekaan bangsa Papua,”

hingga saat ini OAP tetap meminta Indonesia melepaskan dan memberikan kemerdekaan politik kepada bangsa Papua.

“Karena itu memang tuntutan OAP, Indonesia membebaskan Papua dari penjajahan, dan memberikan kemerdekaan politik,”